Anak Gajah Liar di Thailand Kritis: Terpisah dari Kawanan, Tim Medis Berjibaku di Tengah Hujan Deras
Baca dalam 60 detik
- Bayi gajah jantan berusia kurang dari dua minggu ditemukan sendirian di tepi sungai Kanchanaburi, Thailand, dalam kondisi dehidrasi berat dan luka di sekujur tubuh.
- Tim dokter hewan dari DNP Thailand bergerak cepat dengan perahu menyusuri arus deras untuk mengevakuasi dan memberikan perawatan intensif, termasuk tes untuk virus herpes gajah (EEHV).
- Peristiwa ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim dan aktivitas manusia terhadap satwa liar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang memiliki populasi gajah sumatera yang tak kalah terancam.

Seekor bayi gajah liar jantan yang diperkirakan baru berusia dua minggu ditemukan dalam kondisi kritis di tepi Sungai Huai Mae Nam Noi, kawasan Taman Nasional Sai Yok, Kanchanaburi, Thailand, setelah terpisah dari kawanannya. Dengan bobot hanya sekitar 40 kilogram dan dehidrasi parah, anak gajah tersebut harus berjuang melawan luka di mulut, belalai, serta infeksi mata, sementara tim penyelamat berupaya keras menjangkaunya di tengah hujan deras dan arus sungai yang membahayakan.
Penemuan bermula pada Kamis (30/7) pagi, ketika warga Ban Mae Nam Noi melaporkan adanya anak gajah yang tampak lemah dan sendirian di bantaran sungai. Petugas taman nasional yang tiba di lokasi harus menempuh perjalanan satu hingga dua jam menggunakan perahu yang dipinjam dari warga, karena medan yang sulit dan tidak dapat diakses melalui darat. Anak gajah itu diperkirakan telah terdampar selama dua hari, memanggil-manggil induknya sepanjang malam tanpa mendapat respons, sebelum akhirnya dievakuasi ke markas taman nasional untuk perawatan intensif.
Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand, Suchart Chomklin, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi anak gajah tersebut. Ia menginstruksikan Departemen Taman Nasional, Margasatwa, dan Konservasi Tumbuhan (DNP) untuk mengerahkan tim dokter hewan spesialis dan memastikan pengawasan ketat di setiap tahap perawatan. “Saya sangat khawatir karena usianya masih sangat muda dan kondisinya kritis. Saya berterima kasih kepada semua petugas yang berjuang melewati hujan dan arus deras untuk memberikan perawatan terbaik,” ujarnya, seperti dikutip The Nation.
Direktur Jenderal DNP, Attapol Charoenchansa, menjelaskan bahwa tim dokter hewan dari Kantor Regional Kawasan Lindung 3 (Ban Pong) dan cabang Phetchaburi tiba di lokasi pada Jumat (31/7) untuk melakukan asesmen awal. Hasil pemeriksaan menunjukkan anak gajah jantan itu mengalami luka lecet, blister di belalai, sariawan di mulut seukuran koin 10 baht, serta dehidrasi berat. Kondisi matanya juga memprihatinkan karena serangga menyebabkan konjungtivitis, dan urine yang berwarna kuning kemerahan mengindikasikan infeksi atau dehidrasi. Tim medis menyimpulkan kondisinya kritis dan memindahkannya ke markas taman nasional untuk perawatan lebih lanjut.
Peristiwa ini menyoroti tantangan konservasi gajah liar di Asia Tenggara, terutama di tengah cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Hujan deras yang mengguyur Kanchanaburi selama dua hari diduga menyebabkan kawanan gajah menyeberangi sungai dan anak gajah ini hanyut terbawa arus. Kondisi medis yang kompleks, termasuk dugaan infeksi EEHV, menambah kekhawatiran para ahli. EEHV adalah virus herpes yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada gajah muda, dan pengujian sedang dilakukan untuk memastikan diagnosis.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan kerentanan populasi gajah sumatera yang hanya tersisa sekitar 2.400-2.800 individu di alam liar. Konflik antara manusia dan gajah, serta fragmentasi habitat akibat deforestasi, kerap menyebabkan anak gajah terpisah dari kawanannya. Kasus serupa pernah terjadi di Provinsi Riau dan Aceh, di mana anak gajah ditemukan terlantar dan memerlukan rehabilitasi intensif. Kejadian di Thailand ini menegaskan pentingnya penguatan tim penyelamat satwa dan kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan iklim yang mengancam habitat satwa liar.
Tim dokter hewan DNP kini terus memantau kondisi anak gajah di kandang karantina yang telah disterilkan, dengan penjagaan bergilir selama 24 jam. Mereka juga menyiapkan susu khusus dan pengobatan untuk luka-lukanya. Pertanyaan besarnya adalah apakah anak gajah ini akan selamat dan dapat kembali ke habitat aslinya, atau justru harus menjalani hidup di pusat rehabilitasi. Sementara itu, upaya pencarian kawanan gajah terus dilakukan, namun belum membuahkan hasil. Apakah kawanan tersebut akan kembali menjemput anaknya, atau akankah sang bayi harus beradaptasi dengan kehidupan baru tanpa keluarga?



