Emma Finucane Cetak Sejarah: Empat Emas di Satu Commonwealth Games
Baca dalam 60 detik
- Finucane menjadi sprinter pertama yang meraih empat medali emas di satu edisi Commonwealth Games.
- Raihan ini melampaui pencapaian legenda seperti Anna Meares dan Ellesse Andrews yang hanya mengoleksi tiga emas.
- Keberhasilan ini menegaskan dominasi Wales di velodrome dan membuka peluang besar menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

Emma Finucane, pebalap sepeda asal Wales, mencatatkan namanya dalam buku sejarah Commonwealth Games dengan menjadi sprinter pertama yang memborong empat medali emas dalam satu edisi. Prestasi ini diraihnya di Velodrome Chris Hoy, Glasgow, setelah sukses menaklukkan nomor keirin, melengkapi kemenangan sebelumnya di nomor sprint beregu, sprint individu, dan time trial 1.000 meter.
Finucane, yang kini berusia 23 tahun, tampil dominan sepanjang turnamen. Empat medali emasnya didapat dalam empat hari beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya di nomor sprint putri. Sebelumnya, rekor tiga emas dipegang oleh legenda Australia, Anna Meares (2010), dan juara Olimpiade asal Selandia Baru, Ellesse Andrews (2022). Andrews sendiri harus puas menjadi runner-up di nomor keirin saat mencoba mempertahankan gelarnya.
Pencapaian Finucane tidak hanya bersejarah di level Commonwealth Games, tetapi juga bagi Wales. Ia menjadi perempuan Wales pertama yang meraih empat emas dalam satu edisi, sekaligus atlet putri tersukses Wales sepanjang sejarah ajang ini. Ia menggeser rekor Olivia Breen, atlet para-sprinter yang baru memegang rekor tersebut selama dua hari. Secara keseluruhan, Finucane berkontribusi pada perolehan medali Wales yang kini mencapai 31 medali, dengan rincian sembilan emas, sepuluh perak, dan dua belas perunggu.
Dominasi Finucane di Glasgow mengingatkan pada Aaron Gate, pebalap Selandia Baru yang meraih empat emas di Birmingham 2022, meski Gate meraih tiga di trek dan satu di jalan raya. Namun, Finucane melakukannya murni di nomor trek, sebuah spesialisasi yang menuntut kecepatan, taktik, dan konsistensi luar biasa.
Bagi Indonesia, prestasi Finucane menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan atlet muda di cabang olahraga yang membutuhkan infrastruktur dan sains olahraga. Meski Indonesia belum memiliki tradisi kuat di balap sepeda trek, keberhasilan Finucane yang berasal dari kota kecil Carmarthen menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, atlet dari daerah non-metropolitan bisa bersaing di panggung dunia. Hal ini relevan dengan upaya Indonesia yang tengah menggenjot prestasi di Asian Games dan Olimpiade, di mana cabang seperti balap sepeda mulai mendapat perhatian serius.
Finucane, yang juga ditunjuk sebagai pembawa bendera Wales untuk upacara penutupan, kini dipandang sebagai salah satu wajah baru balap sepeda dunia. Dengan usia yang masih muda, ia berpotensi mendominasi nomor sprint hingga Olimpiade Los Angeles 2028. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan konsistensi dan menembus dominasi pebalap Australia dan Selandia Baru yang selama ini menjadi kekuatan utama di nomor ini? Atau justru akan muncul pesaing baru dari negara-negara berkembang, termasuk Asia, yang mulai serius menggarap balap sepeda trek?



