Ariana Grande Rilis Album 'Petal': Kemarahan Tanpa Filter yang Menyegarkan
Baca dalam 60 detik
- Ariana Grande mengungkap album kedelapannya, 'Petal', yang ditulis dari sudut pandang kemarahan mentah tanpa sensor.
- Penyanyi 33 tahun itu mengaku biasanya terlalu pemalu untuk mengekspresikan sisi gelap, namun kali ini ia memilih untuk tidak menyaring emosi.
- Album ini diharapkan memberikan kenyamanan bagi penggemar sekaligus menandai babak baru dalam karier musiknya.

Ariana Grande kembali mengejutkan industri musik dengan album studio kedelapannya, Petal, yang ia tulis dari tempat yang ia sebut sebagai "kemarahan tanpa filter". Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Apple Music yang diunggah di Instagram, pelantun "Thank U, Next" itu mengungkapkan bahwa album 12 lagu ini lahir dari sisi dirinya yang jarang ia tampilkan: amarah yang tidak disensor.
Grande, 33 tahun, menjelaskan bahwa biasanya ia cenderung menulis ulang lirik agar lebih ramah dan tidak terlalu langsung. Namun, untuk Petal, ia memutuskan untuk membuang kebiasaan itu. "Saya menulis dari tempat yang biasanya tidak saya sentuh, yaitu kemarahan yang tidak difilter yang saya pikir kita semua rasakan kadang-kadang," ujarnya dalam klip tersebut. Ia berharap pendekatan yang lebih mentah ini justru akan memberikan "keakraban dan kenyamanan" bagi para penggemarnya.
Single utama album, Hate That I Made You Love Me, yang dirilis pada Mei lalu, menjadi contoh nyata dari perubahan arah ini. Grande menyebut lagu tersebut sebagai "salah satu lagu favorit yang pernah saya tulis". Liriknya yang puitis—seperti "Seperti bunga dari kuburan saat kau memutuskan siapa dirimu"—menunjukkan perpaduan antara kerapuhan dan kekuatan yang jarang ia eksplorasi sebelumnya.
Dalam video pengumuman di Instagram, Grande menjelaskan bahwa Petal adalah metafora tentang "sesuatu yang penuh kehidupan dan tumbuh melalui retakan sesuatu yang dingin, keras, dan menantang". Album ini, menurutnya, adalah tentang memutuskan berbagai bentuk keterikatan negatif—baik itu suara-suara di kepalanya sendiri, pengaruh eksternal, atau hal-hal yang tidak lagi bermanfaat baginya. "Ini sedikit liar," tambahnya. "Pasti berasal dari tempat yang selama ini saya terlalu malu atau sopan untuk menyentuhnya. Kali ini, saya merasa, 'Persetan.'"
Pergeseran ini menarik perhatian tidak hanya karena sisi artistik, tetapi juga karena dampaknya terhadap penggemar di Indonesia. Musik Ariana Grande memiliki basis penggemar yang kuat di Tanah Air, dengan jutaan pendengar streaming setiap bulannya. Bagi banyak pendengar muda Indonesia yang bergulat dengan tekanan sosial dan ekspektasi, album yang mengusung tema pelepasan emosi dan penerimaan diri ini bisa menjadi semacam katarsis. Di era di mana kesehatan mental semakin menjadi perhatian, karya yang jujur dan tanpa filter seperti Petal mungkin justru lebih relevan daripada album-album sebelumnya yang lebih dipoles.
Grande juga menegaskan bahwa album ini adalah eksperimen menulis yang memungkinkannya berbicara tentang satu hal namun dapat ditafsirkan berbeda oleh setiap pendengar. "Orang bisa menggunakannya sesuka mereka dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sendiri," katanya. Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan artistik yang jarang terlihat, di mana ia tidak hanya bernyanyi untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi ruang bagi pendengar untuk menemukan makna pribadi.
Kesuksesan album sebelumnya, Eternal Sunshine, yang debut di puncak Billboard 200 dan menjadi album nomor satu terlama dalam kariernya, tentu menjadi tekanan tersendiri. Namun, dengan Petal, Grande tampaknya tidak terlalu peduli pada angka penjualan. Ia lebih fokus pada ekspresi diri yang otentik. Pertanyaannya, akankah para penggemar—termasuk di Indonesia—menerima sisi baru yang lebih liar ini? Atau justru mereka akan semakin jatuh cinta pada keberaniannya untuk menjadi rentan? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: Ariana Grande tidak pernah berhenti berevolusi.



