DLC Dragon Ball: Sparking Zero Dibanderol €34,99, Lebih Mahal dari Dugaan
Baca dalam 60 detik
- Harga DLC Super Limit-Breaking NEO untuk Dragon Ball: Sparking Zero di Eropa mencapai €34,99, lebih tinggi dari perkiraan awal €29,99.
- DLC ini disebut sebagai paket konten terbesar untuk game tersebut, namun harganya menuai kritik karena dianggap tidak sebanding dengan konten yang ditawarkan.
- Kenaikan harga ini berpotensi memicu perdebatan di kalangan gamer Indonesia terkait kesenjangan harga regional dan daya beli.

Para penggemar Dragon Ball: Sparking Zero di Eropa harus merogoh kocek lebih dalam dari perkiraan untuk menikmati konten tambahan terbaru. Super Limit-Breaking NEO, paket ekspansi yang disebut-sebut sebagai DLC terbesar untuk game ini, resmi dibanderol €34,99 atau sekitar Rp600.000, melampaui ekspektasi komunitas yang sebelumnya memperkirakan harga €29,99.
Kenaikan harga ini menjadi kejutan yang tidak menyenangkan, terutama karena konversi mata uang dari dolar Amerika Serikat ke euro dinilai lebih curam dari biasanya. Di Selandia Baru, DLC ini dijual seharga NZ$56,95, yang setara dengan sekitar US$33 atau €29. Perbedaan harga antarwilayah ini memicu pertanyaan tentang kebijakan penetapan harga pengembang, terutama bagi gamer di kawasan dengan daya beli lebih rendah.
DLC Super Limit-Breaking NEO dijadwalkan rilis di wilayah Barat pada 30 Juli, meskipun sudah tersedia lebih awal di beberapa negara lain. Paket ini menjanjikan konten paling besar untuk Dragon Ball: Sparking Zero, termasuk mode pemain tunggal baru, karakter tambahan, serta penyesuaian keseimbangan permainan. Namun, kualitas mode pemain tunggal di game dasar sebelumnya mendapat kritik, sehingga banyak yang masih skeptis terhadap nilai tambah DLC ini.
Bagi gamer Indonesia, perbedaan harga ini menjadi pengingat akan kesenjangan harga game yang kerap terjadi. Meskipun Steam dan platform digital lainnya sering menerapkan harga regional, DLC ini belum diumumkan secara resmi untuk pasar Asia. Jika mengikuti pola sebelumnya, harga di Indonesia kemungkinan akan lebih rendah, namun tetap perlu diwaspadai karena fluktuasi kurs dan kebijakan pengembang.
Menurut analis industri game, kenaikan harga DLC ini mencerminkan tren kenaikan biaya produksi konten tambahan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa persepsi nilai menjadi kunci. "Jika konten yang ditawarkan tidak sebanding dengan harga, risiko backlash dari komunitas sangat tinggi," ujar seorang pengamat game. Patch terbaru yang sudah dirilis sebelumnya memberikan sedikit penyesuaian, tetapi belum cukup untuk meredakan kekhawatiran.
Ke depannya, keputusan pengembang untuk mempertahankan harga tinggi bisa mempengaruhi loyalitas pemain. Apakah DLC ini akan sukses secara komersial atau justru memicu protes? Jawabannya tergantung pada kualitas konten yang akan dirilis besok.



