Dari MLS ke Ibrox: Bek Timnas Afrika Selatan Makhanya Resmi Jadi Amunisi Baru Rangers
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah berusia 22 tahun, Olwethu Makhanya, secara resmi diperkenalkan sebagai rekrutan kedelapan Rangers musim panas ini dengan kontrak empat tahun plus opsi perpanjangan.
- Pemain yang sempat masuk skuad Piala Dunia 2026 Afrika Selatan ini dinilai manajer Derek McInnes memiliki atribut fisik dan potensi untuk beradaptasi dengan kerasnya sepak bola Skotlandia.
- Langkah Makhanya dari MLS ke Eropa menjadi contoh nyata bagi pemain dari benua Afrika dan Asia, termasuk Indonesia, bahwa jalur karier profesional terbuka lebar melalui kompetisi Amerika.

Bek tim nasional Afrika Selatan, Olwethu Makhanya, resmi menjadi pemain kedelapan yang didatangkan Rangers pada bursa transfer musim panas ini. Pemuda 22 tahun itu ditebus dari Philadelphia Union dengan nilai yang tidak diungkapkan dan meneken kontrak empat tahun di Ibrox, dengan opsi perpanjangan satu musim.
Makhanya mengawali karier profesionalnya di Stellenbosch, Afrika Selatan, sebelum pindah ke Major League Soccer (MLS) pada 2023. Dalam waktu singkat, ia menembus tim utama Philadelphia Union dan mencatatkan 53 penampilan di semua kompetisi. Performa konsistennya di Amerika Serikat membawanya masuk dalam skuad Bafana Bafana untuk Piala Dunia 2026, meski tidak mendapatkan menit bermain di turnamen tersebut.
Bagi Makhanya, bergabung dengan klub sekelas Rangers adalah puncak dari mimpi masa kecil. โSaya bahkan tidak bisa menjelaskan perasaan saya saat ini. Sungguh suatu kehormatan besar dan berkah bisa bergabung dengan klub besar dengan sejarah yang luar biasa. Saya tidak sabar untuk memulai,โ ujarnya dalam pernyataan resmi klub. Manajer Rangers, Derek McInnes, juga optimistis dengan kemampuan bek muda tersebut. โDia memiliki atletisitas yang tinggi dan potensi bagus. Meski berasal dari MLS, kami yakin atributnya bisa beradaptasi dengan sepak bola Skotlandia,โ kata McInnes menjelang laga pembuka Liga Premier Skotlandia melawan Dundee United.
Langkah Makhanya dari Afrika Selatan ke MLS lalu ke Eropa menyiratkan peluang yang semakin terbuka bagi pemain dari negara berkembang. Bagi Indonesia, jejak ini bisa menjadi pembelajaran: kompetisi seperti MLS atau liga-liga di Asia kerap menjadi batu loncatan ke panggung Eropa. Meski belum ada pemain Indonesia yang menembus klub sekelas Rangers, bukan tidak mungkin jalur serupa dapat ditempuh dengan pengelolaan karier yang matang dan dukungan dari federasi.
Kehadiran Makhanya juga menambah daftar pemain Afrika yang memperkuat Rangers, melanjutkan tradisi klub Skotlandia dalam merekrut talenta dari benua hitam. Pertanyaannya, akankah Makhanya mampu bersaing memperebutkan tempat inti di lini belakang Rangers yang sudah dihuni pemain-pemain senior? Jika beradaptasi dengan baik, bukan tidak mungkin ia akan menjadi andalan dalam waktu dekat, baik di liga domestik maupun kompetisi Eropa.



