Singapura Tunjuk Mantan Kepala Otoritas Transportasi sebagai Ketua Baru NParks
Baca dalam 60 detik
- Chew Hock Yong, mantan ketua Workforce Singapore, resmi menjabat ketua National Parks Board (NParks) mulai 1 Agustus 2025, menggantikan Loh Khum Yean yang memimpin sejak 2023.
- Di bawah kepemimpinan Loh, NParks mendirikan Dewan Veteriner, memperluas taman alam dan taman terapi, serta memperkuat riset biosurveillance dan digitalisasi.
- Pergantian ini terjadi saat Singapura mempercepat transformasi menjadi 'City in Nature' di tengah perubahan iklim, dengan 11 anggota dewan baru yang diangkat untuk masa dua tahun.

National Parks Board (NParks) Singapura resmi menunjuk Chew Hock Yong sebagai ketua baru, menggantikan Loh Khum Yean yang telah memimpin lembaga tersebut sejak Oktober 2023. Pergantian ini berlaku efektif pada 1 Agustus 2025, sebagaimana diumumkan dalam siaran bersama Kementerian Pembangunan Nasional (MND) dan NParps, Kamis (31/7).
Chew Hock Yong bukan nama baru di lingkungan birokrasi Singapura. Ia sebelumnya menjabat sebagai ketua Workforce Singapore hingga 30 Juni, sebelum lembaga itu bergabung dengan SkillsFuture Singapore menjadi Skills and Workforce Development Agency pada 1 Juli. Sebelumnya, ia pernah menjadi CEO Land Transport Authority (LTA) dan menjabat sebagai Sekretaris Tetap di Kementerian Pembangunan Nasional, Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga, serta Kementerian Dalam Negeri. Pengalaman lebih dari tiga dekade di sektor publik ini dianggap sebagai bekal kuat untuk memimpin NParks.
Masa kepemimpinan Loh Khum Yean selama hampir tiga tahun ditandai dengan sejumlah inisiatif strategis. Salah satu yang paling menonjol adalah pembentukan Dewan Veteriner, sebuah badan regulasi profesional yang bertujuan meningkatkan standar praktik dokter hewan sekaligus menjaga kesejahteraan hewan. Di bawah kepemimpinannya, NParks juga memperluas kawasan taman alam dan memulihkan habitat, baik di darat maupun laut, serta menambah jumlah taman terapi dan taman bermain alam (nature playgardens) untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
โKonektivitas ruang hijau terus ditingkatkan melalui perluasan penghubung taman, koridor alam, dan jalur alam, yang memperbaiki hasil keanekaragaman hayati dan akses publik ke ruang hijau,โ demikian pernyataan NParks dan MND. Selain itu, NParks juga memperkuat riset dan pengembangan industri, adopsi teknologi, serta digitalisasi, termasuk dalam biosurveillance dan studi sosio-ekologis, pemantauan satwa liar berbasis data dan sensor, serta efisiensi operasional.
Pergantian kepemimpinan ini terjadi di tengah upaya Singapura mempercepat transformasi menjadi 'City in Nature'โsebuah visi yang menekankan integrasi ruang hijau dalam pembangunan perkotaan, terutama dalam menghadapi perubahan iklim. NParks menyatakan bahwa dewan yang terdiri dari 11 anggota akan terus memandu lembaga ini dalam memperkuat transformasi tersebut, sambil bekerja sama dengan komunitas untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Bagi Indonesia, langkah Singapura ini dapat menjadi referensi dalam pengelolaan ruang terbuka hijau dan konservasi perkotaan. Beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya, juga tengah mengembangkan taman kota dan koridor hijau, meskipun masih menghadapi tantangan dalam hal pendanaan dan koordinasi lintas sektor. Pengalaman NParks dalam mengintegrasikan riset, teknologi, dan partisipasi masyarakat bisa menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, tantangan utama Chew Hock Yong adalah mempertahankan momentum inovasi yang telah dibangun pendahulunya, sekaligus memastikan target ambisius 'City in Nature' tetap realistis di tengah keterbatasan lahan dan tekanan iklim. Akankah Singapura mampu menjadi model global bagi kota hijau yang tangguh? Hanya waktu yang akan menjawab.



