Kriket, Panahan, dan Menembak Berpeluang Kembali ke Commonwealth Games 2030
Baca dalam 60 detik
- Tiga cabang olahraga—kriket, panahan, dan menembak—menjadi kandidat utama untuk diikutsertakan kembali dalam Commonwealth Games 2030 di India, setelah edisi Glasgow hanya menampilkan 10 cabang.
- India sebagai tuan rumah memiliki hak mengusulkan dua cabang tambahan, yang kemungkinan besar akan mengakomodasi olahraga tradisional andalan mereka seperti panahan dan menembak.
- Program 17 cabang diharapkan menekan biaya penyelenggaraan, menjadikan model ini lebih berkelanjutan bagi negara-negara anggota Persemakmuran di masa depan.

Kriket, panahan, dan menembak berada di posisi terdepan untuk kembali meramaikan Commonwealth Games pada edisi 2030 yang akan digelar di Ahmedabad, India. Kepastian ini muncul setelah edisi Glasgow yang berlangsung saat ini hanya menampilkan 10 cabang olahraga akibat mundurnya Victoria, Australia sebagai tuan rumah.
Pembahasan program pertandingan masih berlangsung antara Commonwealth Sport, federasi olahraga internasional, dan panitia penyelenggara India. Kepala Eksekutif Commonwealth Sport Katie Sadlier enggan merinci proses seleksi, namun Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade India Raghu Iyer memberi sinyal kuat bahwa cabang-cabang yang menjadi kekuatan India akan diprioritaskan. “Ada banyak cabang yang merasa tidak diikutsertakan. India memiliki tradisi kuat di cabang menembak, panahan, dan beberapa lainnya,” ujarnya kepada BBC Sport.
Kriket sendiri sempat dipertandingkan di Birmingham 2022 untuk pertama kalinya dalam 24 tahun, khusus untuk putri dengan format T20. Kehadiran kriket di India terasa alamiah, terlebih stadion utama Ahmedabad—Narendra Modi Stadium—berkapasitas 120.000 penonton dan telah menjadi tuan rumah final Piala Dunia Kriket. Iyer menambahkan, “Kami juga ingin menampilkan cabang yang secara tradisional dikuasai India.”
Selain ketiga cabang tersebut, sejumlah olahraga lain juga masuk dalam daftar pertimbangan: hoki, rugbi tujuh, bulu tangkis, bola basket 3×3 dan kursi roda 3×3, bola voli pantai, bersepeda, loncat indah, judo, senam ritmik, squash, triatlon, para triatlon, dan gulat. Namun, keputusan final belum diambil. Iyer menegaskan, “Kami fokus memastikan Commonwealth Games ini menjadi salah satu yang terbaik yang pernah digelar.”
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberi gambaran bagaimana model penyelenggaraan multieven dapat diremajakan. Dengan biaya yang lebih rendah dan jumlah cabang yang lebih sedikit, negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menjadi tuan rumah di masa depan. Selain itu, cabang panahan dan menembak yang menjadi andalan Indonesia di ajang SEA Games dan Asian Games dapat menjadi pertimbangan diversifikasi atlet ke level Persemakmuran, meski Indonesia bukan anggota Commonwealth.
Sadlier membantah kekhawatiran bahwa Glasgow kurang terekspos karena tidak ada siaran langsung di kanal utama Inggris. “Kami menandatangani lebih banyak kesepakatan siaran daripada sebelumnya. Jangkauan global luar biasa, dan media sosial melampaui target dari Birmingham,” jelasnya. Format baru yang lebih ringkas diyakini dapat menjadi cetak biru bagi penyelenggaraan yang lebih efisien, tanpa mengurangi daya tarik kompetisi. Pertanyaannya, akankah model ini cukup menarik bagi calon tuan rumah lain, atau India justru akan menghidupkan kembali gengsi Commonwealth Games dengan 17 cabang yang lebih selektif namun tetap kompetitif?



