Pop Mart Buka Toko Roti Labubu di Singapura, Target Ekspansi ke Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan mainan asal China, Pop Mart, merambah bisnis kuliner dengan membuka toko roti bertema Labubu di Singapura.
- Ekspansi ini merupakan strategi diversifikasi di tengah melambatnya pertumbuhan penjualan mainan dan biaya produksi yang meningkat.
- Pop Mart berencana membuka gerai serupa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Pop Mart, produsen mainan koleksi 'blind box' asal Beijing yang terkenal dengan karakter Labubu bergigi runcing, mulai merambah bisnis kuliner dengan membuka toko roti internasional pertamanya di Singapura. Langkah ini menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penjualan mainan, melainkan mulai menjajaki lini bisnis baru untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Toko roti dua lantai yang berlokasi di seberang Universal Studios Singapura ini menyajikan 45 jenis kue dan minuman yang terinspirasi dari karakter-karakter Pop Mart. Pengunjung bisa menikmati es loli Labubu rasa wijen hitam hingga kue keju ganda Molly, dengan harga berkisar antara S$5 hingga S$32 (sekitar Rp57.000 hingga Rp365.000). Konsep ini sebelumnya telah diuji coba melalui lebih dari 30 gerai truk makanan penutup di berbagai kota di China, sebelum akhirnya membuka toko roti permanen di Qinhuangdao pada April lalu.
Zhang Xiaoyang, kepala Pop Bakery di Pop Mart, mengungkapkan bahwa Singapura hanyalah langkah awal. Perusahaan tengah mempertimbangkan ekspansi ke Eropa dan Amerika Serikat, meskipun masih perlu menyelesaikan masalah rantai pasok lokal. Di kawasan Asia Tenggara, target berikutnya adalah Thailand, Indonesia, dan Malaysia. "Kami juga berencana membuka toko roti di Eropa dan AS. Ini soal waktu, dan kami perlu mengatasi masalah seperti rantai pasok lokal," ujarnya dalam sebuah wawancara.
Langkah diversifikasi ini muncul di tengah tantangan bisnis inti Pop Mart. Biaya produksi yang meningkat dan pertumbuhan penjualan serta laba tahunan yang di bawah ekspektasi dalam beberapa kuartal terakhir membuat analis mempertanyakan keberlanjutan model bisnis perusahaan. Laura Pan, dosen di SDA Bocconi School of Management, menilai bahwa toko roti menjadi alat diversifikasi yang tepat karena pasar mainan mungkin sudah mencapai titik jenuh. "Pop bakery adalah alat diversifikasi yang hebat karena hanya ada begitu banyak yang bisa dilakukan perusahaan mainan, dan mereka mungkin sudah mencapai batas dengan manufaktur mainan," katanya.
Namun, Pan juga mengingatkan bahwa jika Pop Mart akhirnya membuka toko roti di Amerika Serikat, sambutan pasar belum tentu positif mengingat popularitas Labubu mulai meredup. Meski begitu, Pop Mart telah berulang kali menyatakan ingin mengikuti jejak Disney sebagai perusahaan hiburan raksasa yang mampu mengubah popularitas sesaat menjadi kesuksesan jangka panjang.
Bagi Indonesia, kehadiran toko roti Labubu berpotensi menjadi fenomena baru di kalangan kolektor dan penggemar karakter tersebut. Dengan basis penggemar yang cukup besar di Tanah Air, terutama setelah Labubu menjadi tren di media sosial, bukan tidak mungkin gerai serupa akan mendapat sambutan hangat. Namun, tantangan harga dan daya beli konsumen lokal perlu menjadi pertimbangan serius. Apakah Pop Mart mampu mempertahankan daya tarik Labubu di tengah persaingan kuliner yang ketat? Ataukah ini hanya akan menjadi tren sesaat yang ikut meredup seiring waktu?



