Investor Baru di Anfield: Liverpool Dibidik Konsorsium Miliarder, Nilai Tembus Rp90 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Fenway Sports Group tengah menjajaki investasi minoritas dari konsorsium Amit Bhatia, yang diperkirakan menaikkan valuasi Liverpool hingga lebih dari £4,5 miliar.
- Langkah ini hadir di tengah masa transisi besar di Liverpool: pergantian pelatih, kepergian sejumlah bintang, dan perombakan jajaran direksi sepak bola.
- Jika terealisasi, injeksi modal itu dapat memperkuat daya saing Liverpool di Premier League serta memperluas basis komersial, termasuk di Asia.

Kabar mengejutkan datang dari Anfield: Fenway Sports Group (FSG), pemilik Liverpool, tengah merundingkan investasi minoritas dengan konsorsium yang dipimpin miliarder Inggris-India Amit Bhatia. Nilai kesepakatan disebut-sebut bisa menembus angka £4,5 miliar, atau setara Rp90 triliun, menjadikan Liverpool sebagai salah satu klub termahal di dunia.
Billy Hogan, CEO Liverpool sekaligus anggota FSG, membenarkan adanya pembicaraan tersebut. Dalam wawancara dengan BBC Sport di New York, Hogan menyatakan bahwa pihaknya selalu terbuka terhadap tawaran yang dapat membantu perkembangan klub. “John Henry dan FSG sejak awal mengatakan jika ada minat investasi yang bisa mendukung klub, mereka akan mempertimbangkannya. Itu masih berlaku,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa FSG tidak berniat melepas kendali penuh; investasi ini bersifat minoritas strategis.
Kabar ini muncul di saat Liverpool tengah menghadapi musim sulit. Setelah menggelontorkan dana transfer sebesar £450 juta pada musim panas sebelumnya, performa di lapangan justru mengecewakan. Pelatih Arne Slot dipecat pada akhir musim, sementara trio bintang Mohamed Salah, Andy Robertson, dan Ibrahima Konate hengkang dengan status bebas transfer. Di luar itu, Direktur Sepak Bola FSG Michael Edwards mengundurkan diri karena rencana kepemilikan multi-klub dibatalkan, dan direktur olahraga Richard Hughes dikaitkan dengan Al Hilal.
Hogan menepis kekhawatiran akan ketidakstabilan. Menurutnya, perubahan adalah keniscayaan dalam sepak bola. “Kami punya pelatih baru dengan filosofi menarik. Perlu waktu, tapi klub dalam kondisi sehat. Kepemilikan solid dan kami optimistis menyambut musim depan,” tegasnya. Ia juga memuji posisi keuangan Liverpool yang menempati peringkat kelima dalam Deloitte Football Money League dengan pendapatan £702 juta, tertinggi di Premier League.
Di luar urusan on-pitch, FSG terus menggarap pengembangan infrastruktur. Anfield telah mengalami renovasi dua dari empat tribun dalam satu dekade terakhir, dan kini fokus pada perbaikan kawasan sekitar stadion. Hogan juga mengakui bahwa tim wanita sempat terabaikan, namun kini mendapat perhatian serius dengan pusat latihan baru di AXA Melwood. “Kami menjalankan tim wanita dengan prinsip berkelanjutan, seperti pria. Ada potensi pertumbuhan besar di sepak bola wanita,” katanya.
Bagi suporter Indonesia, kabar investasi ini patut dicermati. Liverpool memiliki basis penggemar fanatik di Tanah Air, dan suntikan modal baru bisa memperkuat ekspansi komersial klub di Asia. Sejarah mencatat, sejak FSG mengambil alih Liverpool pada 2010 saat klub hampir bangkrut, kini nilai klub melonjak drastis. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan membawa kembali era kejayaan, sekadar mengamankan stabilitas finansial?
Musim depan akan menjadi ujian. Dengan pelatih baru dan potensi investor baru, Liverpool berusaha bangkit dari keterpurukan. Di kota New York—tempat mereka melakoni tur pramusim—klub berharap bisa memulai lembaran baru. Namun, tekanan untuk bersaing di papan atas Premier League dan Eropa tetap besar.



