Seydou Traore: Lulusan Pertama NFL Academy yang Sukses Tembus NFL
Baca dalam 60 detik
- Pemain asal London, Seydou Traore, menjadi lulusan pertama NFL Academy yang berhasil masuk NFL setelah dipilih Miami Dolphins pada ronde kelima draft 2025.
- Perjalanannya dimulai dari kiper sepak bola, melalui akademi di Inggris, hingga mendapat bimbingan bintang NFL Travis Kelce, menunjukkan betapa ketatnya persaingan untuk atlet non-Amerika.
- Kisah Traore membuka peluang bagi negara seperti Indonesia untuk mengembangkan bakat gridiron, meskipun jalur menuju NFL bagi atlet Asia masih sangat terbatas.

Sebuah panggilan telepon dari Miami Dolphins mengubah hidup Seydou Traore. Pemuda 23 tahun asal London Selatan itu, yang selama lima tahun tidak bertemu keluarganya demi mengejar impian menjadi pemain NFL, akhirnya mendengar kabar yang ditunggu-tunggu. Di belakang panggung NFL Draft di Pittsburgh, ibunya, Zaia, melontarkan zaghrouta—suara tradisional Afrika Utara—dan menangis haru. Reaksinya langsung viral di media sosial. "Saya seperti kesurupan. Rasanya campuran antara bangga dan lega," ujar Zaia kepada BBC Sport.
Traore adalah lulusan pertama NFL Academy—program pengembangan yang berbasis di Loughborough, Inggris—yang berhasil menuntaskan seluruh jalur menuju NFL. Sebelumnya, hanya ada Travis Clayton yang sempat singgah di akademi itu pada 2019 tetapi tidak menjalani pendidikan di kampus AS. Sejak akademi berdiri, lebih dari 75 siswa telah memperoleh beasiswa sepak bola perguruan tinggi di Amerika Serikat—namun baru Traore yang benar-benar menembus draft.
Perjalanan Traore tidak mudah. Ia bermain sebagai kiper sepak bola di klub London Warriors sebelum beralih ke American football pada usia 16 tahun. Pada 2019, ia diterima di angkatan pertama NFL Academy. "Saya bangun pukul 05.00 setiap hari dan berlatih sepanjang hari," kenangnya. Setahun kemudian, ia mendapat kesempatan di Clearwater Academy, Florida, setelah pelatih kepala Jesse Chinchar terkesan dengan video kemampuan atletiknya. Tanpa pengalaman pertandingan penuh, Traore langsung dominan sebagai wide receiver. "Saya pikir latar belakang kiper membantu: koordinasi mata-tangan, melompat, dan menyerang bola di titik tertinggi," jelasnya.
Setelah Clearwater, Traore mendapat beasiswa dari Arkansas State, tetapi pelatih Butch Jones—yang pernah melatih Travis Kelce di Cincinnati—menganggapnya mirip dengan bintang Kansas City Chiefs itu. Jones bahkan mengatur panggilan video dengan Kelce untuk membujuk Traore pindah ke Arkansas State. "Dia seperti bola tanah liat besar yang bisa saya bentuk," kata Jones. Traore beralih ke posisi tight end dan pada 2022 dinobatkan sebagai tight end terbaik di Sun Belt Conference. Namun, perjalanannya tidak mulus. Setelah pindah ke Colorado dan Mississippi State, ia sempat dilarang bermain satu musim penuh karena aturan transfer NCAA. "Saya belajar betapa saya menginginkannya," ujarnya. Pada 2024, Traore menjadi salah satu ancaman utama serangan Mississippi State, dan pada 2025 ia mencetak lima touchdown—rekor pribadi—serta populer dengan selebrasi minum teh khas Inggris.
Kisah Traore relevan bagi Indonesia, di mana American football masih dalam tahap awal perkembangan. Meskipun terdapat komunitas seperti Indonesian American Football Association (IAFA), belum ada jalur sistematis seperti NFL Academy yang mampu melahirkan talenta ke level profesional. Keberhasilan Traore menunjukkan bahwa dengan program pembinaan yang tepat, atlet dari negara non-tradisional pun bisa bersaing di NFL. Namun, tantangan besar masih membentang: biaya, akses ke pelatih berkualitas, dan eksposur kompetisi. "Ini baru permulaan," kata Traore. Bagi Indonesia, pertanyaannya adalah: kapan akan muncul pemain pertama yang mampu menembus liga paling bergengsi di dunia itu?



