Korban Selamat Kapal Kargo Tenggelam di Laut Natuna Bertambah, 48 Orang Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Operasi pencarian terhadap 14 awak kapal Khoi Nguyen 18 yang hilang masih berlangsung, melibatkan Vietnam, Filipina, dan China.
- Kapal kargo Vietnam itu tenggelam di dekat Fiery Cross Reef, kawasan Laut Natuna yang menjadi sengketa, akibat cuaca buruk.
- Koordinasi multilateral dalam misi SAR ini menunjukkan pentingnya kerja sama regional di tengah ketegangan geopolitik.

Jumlah korban selamat dari kapal kargo Vietnam yang tenggelam di perairan dekat Fiery Cross Reef, kawasan Laut Natuna yang disengketakan, terus bertambah. Hingga Selasa, 48 dari 62 awak kapal berhasil dievakuasi, sementara tim penyelamat dari tiga negara masih memburu 14 orang yang dinyatakan hilang.
Kapal berbendera Vietnam, Khoi Nguyen 18, dilaporkan karam pada Sabtu malam lalu saat berlayar dalam cuaca buruk di Laut Natuna Utara. Lokasi tenggelamnya kapal berada di dekat Fiery Cross Reef, sebuah pulau buatan China yang juga menjadi pos militer di Kepulauan Spratly—wilayah yang klaimnya tumpang tindih antara China, Vietnam, Filipina, dan beberapa negara ASEAN lainnya.
Kementerian Luar Negeri Vietnam menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) telah dimobilisasi segera setelah kecelakaan terjadi. Vietnam berkoordinasi erat dengan kapal penyelamat, helikopter, dan aset maritim China yang berada di sekitar lokasi. Sementara itu, Penjaga Pantai Filipina juga mengerahkan satu kapal patroli dan pesawat udara setelah menerima permintaan bantuan dari Vietnam.
Bagi Indonesia, insiden ini memiliki relevansi langsung karena lokasi tenggelamnya kapal berada di kawasan Laut Natuna yang berbatasan dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Fiery Cross Reef sendiri merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Spratly yang sebagian klaimnya tumpang tindih dengan Indonesia. Meskipun kapal tersebut tenggelam di luar perairan yurisdiksi Indonesia, koordinasi multilateral dalam misi SAR ini menunjukkan pentingnya kerja sama maritim regional di tengah ketegangan geopolitik yang masih membara.
Menurut analis keamanan maritim, keberhasilan operasi SAR ini bergantung pada komunikasi lintas batas yang efektif. “Dalam situasi darurat, protokol keselamatan maritim harus mengesampingkan sengketa teritorial,” ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. “Namun, insiden ini juga mengingatkan bahwa Laut Natuna adalah kawasan rawan kecelakaan karena tingginya lalu lintas kapal dan cuaca ekstrem.”
Vietnam telah memastikan bahwa 48 korban selamat telah menerima perawatan medis dan akan dipulangkan ke daratan. Sementara itu, upaya pencarian 14 awak yang hilang terus berlanjut dengan dukungan peralatan canggih dari ketiga negara. Pertanyaannya, akankah insiden ini mendorong mekanisme SAR yang lebih terpadu di kawasan, atau justru memperuncing rivalitas klaim teritorial?



