Lonjakan Lalu Lintas Kapal di Bab el-Mandeb: Sinyal Ketegangan Laut Merah Mereda?
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 37 kapal komoditas melintasi Selat Bab el-Mandeb dalam sehari, tertinggi dalam sepekan terakhir, menandai potensi pelonggaran blokade Houthi.
- Tidak ada kapal tanker minyak mentah raksasa (VLCC) atau LNG yang terdeteksi, menunjukkan rute alternatif masih diminati untuk kargo bernilai tinggi.
- Di tengah serangan Houthi ke kapal Saudi, China melakukan negosiasi langsung dengan kelompok Yaman itu demi keamanan tankernya di Laut Merah.

Tiga puluh tujuh kapal komoditas tercatat melintasi Selat Bab el-Mandeb dalam satu hari, angka tertinggi sejak 19 Juli lalu. Data pelacakan kapal dari firma analitik Kpler menunjukkan peningkatan aktivitas ini terjadi di tengah ketegangan yang masih menyelimuti jalur pelayaran strategis tersebut.
Dari total kapal yang melintas pada Selasa lalu, 20 di antaranya masuk ke selat sementara 17 lainnya keluar. Meski volume lalu lintas meningkat, tidak ada kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) maupun kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang terdeteksi. Hal ini mengindikasikan bahwa pemilik kapal masih enggan mengirimkan aset bernilai tinggi melalui rute yang rawan serangan.
Di antara kapal yang keluar, tiga merupakan kapal tanker Aframax bermuatan minyak mentah. Dua di antaranya, Aisopos dan Gustav, masing-masing membawa lebih dari 750.000 barel minyak menuju Teluk Aden. Sementara itu, Karachi mengangkut sekitar 430.000 barel minyak mentah dengan tujuan Pakistan. Untuk kapal yang masuk, dua tanker membawa produk petrokimia: Velos Aquarius mengangkut 345.000 barel metil tert-butil eter (bahan campuran bensin) untuk pengiriman ke sebelah barat Terusan Suez, dan Sea Ambition membawa hampir 93.000 barel bahan kimia menuju Turkiye.
Peningkatan lalu lintas ini terjadi di tengah eskalasi militer. Kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke sebuah kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah pada hari yang sama. Serangan itu merupakan bagian dari penguatan blokade maritim yang baru dideklarasikan terhadap Arab Saudi, menyusul aksi sebelumnya yang menargetkan fasilitas minyak Saudi. Langkah Houthi ini menambah ketidakpastian bagi pelayaran internasional yang bergantung pada jalur Laut Merah.
Menariknya, China dilaporkan telah mengadakan pembicaraan langsung dengan Houthi untuk memungkinkan tanker-tanker mereka tetap berlayar melintasi Laut Merah. Langkah diplomasi ini menunjukkan betapa pentingnya stabilitas jalur tersebut bagi pasokan energi dan komoditas global. Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak dan gas, setiap gangguan di Bab el-Mandeb berpotensi mempengaruhi harga energi domestik dan biaya logistik. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah dan produk kilang membuat situasi ini perlu dicermati, terutama jika ketegangan berlanjut dan mendorong kenaikan premi asuransi pengiriman.
Sementara itu, di Selat Hormuz, hanya lima kapal komoditas yang melintas pada hari yang sama. Salah satu yang masuk adalah VLCC Nissos Kea yang saat ini dalam kondisi kosong. Oman telah mengajukan proposal kepada Iran untuk pengelolaan bersama kawasan Selat Hormuz dengan skema biaya sukarela dari perusahaan pelayaran. Namun, seorang pejabat Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak akan ada tol atau biaya untuk melintasi selat tersebut dalam kesepakatan koordinasi yang tengah dibahas.
Perbedaan volume lalu lintas antara Bab el-Mandeb dan Hormuz mencerminkan dinamika geopolitik yang kompleks. Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, menjadi titik rawan karena aksi Houthi yang didukung Iran. Sementara Hormuz, yang menjadi jalur utama ekspor minyak Teluk, masih relatif tenang meski ada proposal Oman. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah peningkatan lalu lintas di Bab el-Mandeb ini merupakan tren sementara atau awal dari normalisasi, terutama jika diplomasi China membuahkan hasil?



