Iran Gempur Pangkalan AS, Riyadh-Washington Balas Serang Irak: Perang Minyak Mengancam
Baca dalam 60 detik
- Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania, sementara AS dan Arab Saudi menyerbu basis milisi pro-Teheran di Irak timur.
- Serangan terhadap kapal gas alam di Mesir dan fasilitas minyak Saudi memicu lonjakan harga minyak Brent hingga 7,3 persen, memperparah krisis energi global.
- Mediasi gencatan senjata terhambat setelah Iran menolak usul Oman mengelola Selat Hormuz bersama, menegaskan kebijakan untuk tidak mengembalikan jalur pelayaran ke kondisi sebelum perang.

Iran melancarkan rentetan rudal balistik ke pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania—pusat komando utama Amerika Serikat di kawasan—pada Rabu (30/7), sementara jet tempur AS dan Arab Saudi menghantam pos-pos logistik dan gudang senjata milisi pro-Teheran di Irak timur, menewaskan sedikitnya 20 pejuang dan enam penasihat Iran. Eskalasi ini memecah relatif tenang yang berlangsung beberapa hari dan mengancam mengembalikan konflik ke skala perang penuh.
Dalam perkembangan terpisah, serangan drone menyulut kebakaran di dua kapal pengangkut gas alam cair di pelabuhan Damietta, Mesir. Perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey melaporkan bahwa satu fasilitas penyimpanan terapung milik AS dan satu kapal tanker milik Yunani menjadi sasaran, meski tidak ada korban jiwa. Mesir, sekutu dekat Washington yang selama ini relatif luput dari aksi militer langsung, kini terancam terseret ke pusaran konflik.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan di Kantor Oval, mengisyaratkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal itu merupakan bagian dari pola yang sama. “Ini akan dibereskan. Sementara itu, kami akan menghajar mereka sangat keras karena giliran kami. Mereka tahu itu akan datang dan meminta kami untuk tidak melakukannya,” ujarnya.
Arab Saudi sebelumnya menuduh milisi Irak melancarkan serangan drone ke fasilitas minyaknya dalam dua hari terakhir. Kelompok payung milisi Irak awalnya membantah, namun kelompok lain yang didukung Iran—pemberontak Houthi Yaman—mengaku menyerang fasilitas energi Saudi sebagai bagian dari konflik terpisah namun terkait. Analis menilai koordinasi antara aktor-aktor pro-Teheran ini menunjukkan eskalasi yang terencana, bukan sekadar reaksi spontan.
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa risiko langsung. Lonjakan harga minyak Brent akan menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Selat Hormuz yang tertutup memaksa kapal tanker mengambil rute lebih panjang via Tanjung Harapan, meningkatkan biaya pengiriman dan harga BBM di dalam negeri. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga LPG dan bahan bakar industri yang dapat memicu inflasi.
Upaya mediasi yang sempat dianggap menjanjikan kini berada di ujung tanduk. Seorang pejabat regional yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa para mediator “masih berusaha dengan kedua belah pihak” untuk memulihkan gencatan senjata, namun prospeknya tipis. “Kami berada di tempat yang sangat buruk sekarang,” katanya. Iran baru saja menolak proposal Oman untuk mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz secara bersama-sama. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan Teheran mengajukan kontraproposal sementara yang hanya mengizinkan kapal melintas di perairan teritorial Iran, seraya menegaskan bahwa selat itu “tidak akan pernah kembali ke situasi sebelum perang.”
Irak, yang menjadi medan pertempuran antara AS-Saudi dan milisi pro-Iran, mengecam serangan udara tersebut sebagai “pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Irak.” Kantor Presiden Nizar Amidi menyatakan bahwa serangan terjadi saat pemerintah Irak tengah berkomunikasi dengan pihak terkait untuk menyelidiki kekhawatiran Riyadh dan Washington. Kunjungan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Arab Saudi yang dijadwalkan Kamis (31/7) ditunda tanpa batas waktu.
Dengan kedua belah pihak yang terus melancarkan serangan dan menolak mundur, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana konflik ini akan meluas? Jika Iran dan sekutunya terus menargetkan infrastruktur energi Saudi dan jalur pelayaran, dunia mungkin harus bersiap menghadapi gelombang baru krisis minyak yang dampaknya akan terasa hingga ke pompa bensin di Indonesia.



