Anwar Ibrahim Dorong Asean Perkuat Kerja Sama dengan China Greater Bay Area untuk Transisi Energi
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyerukan integrasi teknologi dan pendanaan hijau China Greater Bay Area ke dalam proyek Asean Power Grid.
- Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik Iran dan Gaza, disebut sebagai pemicu urgensi transisi energi bersih di Asia Tenggara.
- Malaysia menargetkan 40% kapasitas energi terbarukan pada 2035 dan 70% pada 2050, dengan komitmen menghentikan pembangkit listrik tenaga batu bara baru.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mendesak negara-negara Asean untuk memperdalam kerja sama dengan Greater Bay Area (GBA) China guna mempercepat transisi energi bersih dan memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat. Dalam pidato utama di Konferensi GBA-Asean tentang Transisi dan Integrasi Energi, Anwar menekankan bahwa inovasi teknologi, kemampuan manufaktur canggih, dan keahlian pembiayaan berkelanjutan dari GBA dapat melengkapi upaya Asean menuju integrasi energi regional melalui inisiatif seperti Asean Power Grid.
Anwar menyebutkan bahwa sektor energi bersih China sangat besar, mencapai lebih dari sepersepuluh PDB-nya. Ia mendorong agar keterlibatan lebih dalam dengan China dan negara mitra lainnya terus dilakukan melalui mekanisme yang dipimpin Asean, terutama Asean Power Grid. Menurutnya, transisi ke sumber energi bersih dan terbarukan bukan hanya preferensi ekologis, melainkan keharusan keamanan nasional. Konflik geopolitik, seperti perang yang melibatkan Iran, krisis kemanusiaan di Gaza, dan gangguan jalur laut kritis, telah menunjukkan kerentanan rantai pasokan energi global.
โSelain korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, kita kini dihadapkan pada gangguan besar pada perekonomian dan rantai pasokan energi,โ ujar Anwar, seraya menambahkan bahwa situasi diperparah oleh blokade Selat Bab al-Mandeb. Ia menegaskan bahwa pemerintah saja tidak dapat membiayai transisi energi, sehingga diperlukan kolaborasi yang lebih kuat antara sektor publik, investor swasta, dan pengembang proyek untuk memobilisasi modal yang dibutuhkan untuk proyek energi terbarukan, peningkatan jaringan, penyimpanan baterai, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Malaysia, kata Anwar, telah lama menerapkan pembiayaan inovatif, seperti peluncuran kerangka sukuk hijau pada 2017. Pasar keuangan Malaysia kini semakin memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi berkelanjutan di kawasan. Ia juga menyoroti perluasan Asean Power Grid yang mencakup interkoneksi yang direncanakan antara Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia Barat, Singapura, Sarawak, Sabah, Kalimantan, dan kemungkinan Filipina selatan. Jaringan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi regional.
Bagi Indonesia, ajakan Anwar ini memiliki implikasi strategis. Sebagai anggota Asean dengan potensi energi terbarukan besar, Indonesia dapat memanfaatkan kerja sama dengan GBA untuk mempercepat pengembangan infrastruktur energi bersih, terutama dalam hal transfer teknologi dan pembiayaan hijau. Peta jalan transisi energi Indonesia yang menargetkan bauran energi terbarukan 23% pada 2025 dan netral karbon pada 2060 sejalan dengan semangat integrasi regional. Namun, tantangan pendanaan dan kesiapan jaringan listrik masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Anwar menegaskan kembali komitmen Malaysia terhadap Peta Jalan Transisi Energi Nasional, yang menargetkan kapasitas energi terbarukan sebesar 40% pada 2035 dan 70% pada 2050, serta tidak ada pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan penghentian bertahap pembangkit yang ada. Langkah ini menunjukkan bahwa negara-negara Asean mulai serius mengejar target iklim, meskipun masih ada kesenjangan antara ambisi dan realisasi di lapangan.
Ke depan, keberhasilan integrasi energi Asean sangat bergantung pada kemauan politik, investasi, dan kerja sama teknis. Akankah negara-negara anggota mampu menyelaraskan kepentingan nasional dengan tujuan regional? Atau justru ketegangan geopolitik akan semakin memperlambat transisi energi? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menunggu jawaban dari para pemimpin Asean dalam forum-forum selanjutnya.



