Kembalinya Mancini ke Timnas Italia: Antara Euforia dan Keraguan
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini resmi ditunjuk kembali sebagai pelatih kepala Italia, lima tahun setelah membawa Gli Azzurri juara Euro 2020.
- Kepulangan Mancini menuai pro-kontra mengingat ia meninggalkan posisi pada 2023 setelah gagal membawa Italia ke Piala Dunia 2022.
- Tantangan terbesar Mancini adalah membangun kembali identitas tim sambil menyeimbangkan regenerasi pemain dengan hasil instan.

Roberto Mancini kembali menjadi nahkoda Timnas Italia lima tahun setelah mengantar Gli Azzurri meraih gelar Euro 2020. Keputusan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) ini langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar dan analis, mengingat kepergiannya yang kontroversial pada 2023 lalu.
Era pertama Mancini (2018–2023) layaknya dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia berhasil membangun skuad yang solid dan memenangkan Euro 2020—prestasi puncak setelah Italia absen di Piala Dunia 2018. Namun di sisi lain, kegagalan menembus Piala Dunia 2022 setelah kalah dari Makedonia Utara di babak play-off menjadi noda yang sulit dihapus. Kini, pria berusia 61 tahun itu kembali dipercaya menangani La Nazionale di tengah masa transisi yang penuh tanda tanya.
Pertanyaan mendasar muncul: apakah langkah FIGC ini tepat? Kritikus menilai Mancini memiliki rekam jejak yang fluktuatif. Kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2022 menunjukkan kelemahan taktis saat menghadapi tim yang bertahan rapat. Namun pendukungnya berargumen bahwa ia adalah sosok yang mampu menyatukan ruang ganti dan memaksimalkan potensi pemain muda seperti Nicolò Barella dan Federico Chiesa.
Dari perspektif Indonesia, perjalanan Mancini menjadi pelajaran berharga bagi sepak bola nasional. Konsistensi di level internasional tidak hanya bergantung pada nama besar pelatih, tetapi juga kesinambungan program pembinaan. Timnas Italia yang kaya sejarah tetap rentan terhadap kegagalan kualifikasi—sebuah pengingat bahwa tidak ada jaminan kesuksesan instan. Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengikuti Serie A, kembalinya Mancini bisa menghidupkan kembali daya tarik timnas Italia di mata publik.
“Mancini tahu cara memenangkan trofi, tetapi ia juga harus membuktikan bahwa ia bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Tantangannya kini adalah membangun tim yang tidak hanya bermain indah, tetapi juga efektif,” ujar analis sepak bola Italia, Lorenzo Bettoni, seperti dikutip Football Italia.
Ke depan, Mancini harus segera menentukan arah. Apakah ia akan kembali mengandalkan pemain senior seperti Ciro Immobile atau memberikan lebih banyak ruang kepada generasi baru seperti Sandro Tonali? Dengan kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan dimulai tahun depan, waktu menjadi musuh utama. FIGC tampaknya mempertaruhkan segalanya pada sosok yang sudah terbukti, namun risiko pengulangan kegagalan tetap membayangi.



