Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali ke Status Pra-Perang: Ancaman Baru bagi Pasokan Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Tehran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dikelola seperti sebelum konflik, dan setiap kapal perang asing yang mendekat dianggap sasaran sah.
- Iran menolak usul Oman yang melibatkan pihak ketiga dalam pembersihan ranjau, serta mengajukan skema kendali penuh di jalur masuk dan kendali parsial di jalur keluar.
- Sikap keras Iran berpotensi mengerek harga minyak dunia dan memicu ketegangan baru di kawasan, termasuk berdampak pada stabilitas pasokan energi ke Indonesia.

Teheran menegaskan tidak akan mengembalikan pengelolaan Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang, dengan ancaman bahwa setiap kapal perang Eropa yang mendekati jalur strategis itu akan dianggap sebagai target sah. Pernyataan ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, saat memaparkan posisi negeri para mullah terkait masa depan selat tersebut.
Menurut Gharibabadi, memulihkan status quo ante di Selat Hormuz sama artinya dengan mengakui kegagalan Iran mencapai tujuan penuh dalam konflik. โJika situasi selat kembali seperti sebelum perang, maka keberhasilan kami dalam perang tidak akan sempurna,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa Iran siap mempertahankan kedaulatan atas jalur air itu dan tidak takut jika permusuhan kembali pecah.
Gharibabadi menyebut Selat Hormuz sebagai โkapasitas pertahanan baruโ yang telah menjadi bagian integral dari keamanan nasional Iran. Pengaturan pengelolaan ke depan, katanya, akan memiliki implikasi keamanan jangka panjang. Ia juga mengungkapkan bahwa Oman sempat mengusulkan keterlibatan negara ketiga dalam operasi pembersihan ranjau di bagian selatan selat, namun Iran menolak usulan tersebut.
Dalam perkembangan lain, Gharibabadi menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta negosiasi dengan Amerika Serikat dalam 15 hari terakhir. Inisiatif dialog justru datang dari Washington melalui perantara Oman. โAmerika meminta kami untuk mengadakan pembicaraan dan mengirim pesan melalui Oman bahwa mereka tidak akan mengambil tindakan militer terhadap kami,โ katanya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tekanan diplomatik AS belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Pembicaraan dengan Oman difokuskan pada pengaturan bersama Selat Hormuz. Oman mengusulkan jalur bersama di bawah kendali setara kedua negara, namun Iran menolak karena dinilai dapat melemahkan kedaulatannya. Sebagai gantinya, Iran mengajukan skema kendali penuh atas jalur masuk dan kendali parsial atas jalur keluar. โJika Oman menerima proposal, kami akan melanjutkan ke tahap berikutnya; jika tidak, selat akan tetap tertutup dan kami siap melanjutkan perang,โ ancam Gharibabadi.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar berita internasional. Sebagai negara pengimpor minyak mentah dan produk minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Setiap gangguan di selat tersebut dapat mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipatif, termasuk diversifikasi sumber pasokan dan penguatan cadangan strategis.
Ke depan, sikap keras Iran berpotensi memicu eskalasi baru di kawasan Teluk. Dengan ancaman penutupan selat dan kesiapan melanjutkan perang, stabilitas pasar energi global berada di ujung tanduk. Pertanyaannya, akankah Oman dan komunitas internasional mampu menemukan titik temu dengan Teheran sebelum konflik terbuka kembali terjadi?



