FIFA Buka Proses Disiplin terhadap Argentina Usai Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- FIFA menunjuk jaksa disiplin untuk menyelidiki keributan pemain dan staf Argentina setelah kalah di final Piala Dunia 2023.
- Tiga pemain Argentina dan asisten pelatih terancam sanksi larangan bermain karena tuduhan penyerangan dan perilaku tidak sportif.
- Asosiasi Sepak Bola Argentina juga diperiksa atas dugaan pelanggaran etik, termasuk penggunaan spanduk kontroversial terkait Kepulauan Falkland.

FIFA resmi membuka proses disipliner terhadap tim nasional Argentina menyusul serangkaian insiden yang terjadi setelah kekalahan 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia Wanita 2023 dan selama turnamen berlangsung. Langkah ini diambil setelah jaksa etik dan disiplin yang ditunjuk pekan lalu merekomendasikan penyelidikan lebih lanjut.
Keributan pecah begitu peluit panjang berbunyi di New York New Jersey Stadium, Juli lalu. Sejumlah pemain dan ofisial Argentina terlibat adu mulut dan kontak fisik dengan pemain Spanyol. FIFA kini menyelidiki bek Nahuel Molina (dua tuduhan) dan gelandang Leandro Paredes (tiga tuduhan) atas dugaan penyerangan berdasarkan Pasal 14 kode disiplin. Asisten pelatih Roberto Ayala juga menghadapi satu tuduhan serupa. Molina juga bisa dijerat dengan satu tuduhan perilaku tidak sportif di pasal yang sama, bersama rekan setimnya Thiago Almada dan gelandang Spanyol Gavi.
Dalam aturan FIFA, perilaku tidak sportif setidaknya berbuah hukuman larangan bermain satu pertandingan, sedangkan penyerangan minimal tiga pertandingan. Namun keputusan akhir tetap bergantung pada hasil investigasi dan sidang komite disiplin.
Selain insiden pasca-final, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga menjadi sorotan karena ulah suporter dan tim sepanjang turnamen. FIFA menuduh AFA melanggar Pasal 13 (demonstrasi non-olahraga), Pasal 14 (pelanggaran tim), Pasal 15 (diskriminasi dan pelecehan rasis), serta Pasal 17 (gangguan keamanan). Tuduhan terakhir berkaitan dengan nyanyian dan gestur diskriminatif, keterlambatan kick-off, pesan tidak pantas yang ditampilkan tim dan penonton, serta lemparan benda ke lapangan.
Salah satu insiden paling kontroversial terjadi saat Argentina merayakan kemenangan semifinal atas Inggris. Para pemain mengangkat spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas"โsebuah pernyataan dukungan terhadap klaim Argentina atas Kepulauan Falkland. Tindakan ini dinilai sebagai penggunaan ajang olahraga untuk propaganda politik yang dilarang FIFA.
"Penggunaan spanduk politik di stadion jelas melanggar prinsip netralitas olahraga," kata pengamat hukum olahraga dari Universitas Indonesia, Andi M. Asrun. "FIFA harus konsisten menegakkan aturan agar sepak bola tidak menjadi alat kepentingan politik sempit."
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap kode etik FIFA. PSSI dan klub-klub Tanah Air harus mewaspadai potensi sanksi serupa jika ada tindakan provokatif di pertandingan internasional. Selain itu, transparansi proses disiplin FIFA dapat menjadi acuan bagi sistem peradilan olahraga nasional yang masih terus dibenahi.
Proses penyelidikan ini diperkirakan berlangsung beberapa bulan ke depan. Jika terbukti bersalah, Argentina tidak hanya kehilangan pemain kunci di turnamen mendatang, tetapi juga menghadapi denda atau larangan bertanding untuk timnas. Pertanyaannya, mampukah FIFA benar-benar menindak tegas tanpa pandang bulu, atau kembali tersandung politik kekuasaan di balik sepak bola global?



