Ukraine Gugat Keputusan IOC Pulihkan Rusia ke Olimpiade: Langkah Berbahaya bagi Pergerakan Olahraga
Baca dalam 60 detik
- Komite Olimpiade Ukraina mengajukan banding ke CAS atas pemulihan hak Rusia oleh IOC, yang dinilai prematur dan melanggar Piagam Olimpiade.
- Keputusan IOC pada Juli 2026 membuka jalan atlet Rusia tampil di Olimpiade Los Angeles 2028, meski sanksi dari FIFA dan World Athletics masih berlaku.
- Pemulihan ini dipandang sebagai preseden buruk yang mengancam integritas gerakan Olimpiade, terutama bagi negara yang teritorinya dilanggar.

Komite Olimpiade Nasional Ukraina secara resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menentang keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang memulihkan kembali hak Rusia untuk berkompetisi. Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam sengketa yang berakar pada invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022.
IOC sempat membekukan Komite Olimpiade Rusia (ROC) pada 2023 sebagai respons atas perang, namun pada 7 Juli 2026 secara mendadak mencabut sanksi tersebut dengan alasan “sudah tidak relevan”. Keputusan itu memungkinkan atlet Rusia untuk kembali berlaga di bawah bendera nasional mereka pada Olimpiade Los Angeles 2028—sebuah perubahan signifikan setelah mereka hanya tampil sebagai atlet netral di Olimpiade Paris 2024 dan Milan-Cortina 2026.
Ukraina menilai langkah IOC itu terburu-buru dan tidak disertai verifikasi apakah pelanggaran yang menyebabkan sanksi—yakni pencaplokan organisasi olahraga dari wilayah Ukraina yang diduduki—benar-benar telah diselesaikan. “Keputusan ini melanggar Piagam Olimpiade dan menciptakan preseden berbahaya bagi seluruh gerakan Olimpiade,” demikian pernyataan resmi NOC Ukraina.
CAS pada 2024 justru telah memperkuat posisi Ukraina dengan mengakui bahwa masuknya organisasi olahraga dari wilayah pendudukan melanggar integritas teritorial NOC Ukraina. Dengan demikian, pemulihan ROC tanpa penyelesaian konkret atas pelanggaran tersebut dianggap sebagai kemunduran hukum olahraga internasional.
Bagi Indonesia, yang turut aktif dalam gerakan Olimpiade dan pernah menjadi tuan rumah Asian Games, kasus ini memiliki resonansi tersendiri. Prinsip integritas teritorial yang diusung Ukraina selaras dengan posisi Indonesia di forum-forum internasional. Jika preseden pemulihan tanpa sanksi yang tuntas dibiarkan, hal itu dapat melemahkan efektivitas larangan partisipasi sebagai alat tekanan diplomatik di masa depan—termasuk potensi konflik yang melibatkan negara-negara kawasan.
Di sisi lain, langkah IOC menunjukkan adanya tekanan untuk kembali menormalisasi hubungan dengan Rusia, terutama menjelang Olimpiade Los Angeles 2028 yang menjadi ajang pertama atlet Rusia tampil secara penuh. Namun, keputusan ini menuai kritik karena dianggap mengabaikan fakta bahwa perang di Ukraina masih berlangsung dan belum ada perubahan sikap dari Moskow.
Bandungan Ukraina ke CAS akan menjadi ujian bagi konsistensi lembaga peradilan olahraga tersebut. Apakah CAS akan mempertahankan putusan sebelumnya yang mendukung Ukraina, atau justru membuka celah bagi pemulihan penuh Rusia? Jawabannya akan menentukan arah politik olahraga global dalam beberapa tahun mendatang.



