Pemakaman Kenegaraan untuk Garfield Sobers: Penghormatan Tertinggi bagi Legenda Kriket Dunia
Baca dalam 60 detik
- Sir Garfield Sobers, ikon kriket serba bisa, dimakamkan secara kenegaraan di Barbados dengan kehadiran pejabat dan legenda olahraga.
- Upacara di Kensington Oval menegaskan status Sobers sebagai pahlawan nasional dan sumber inspirasi global.
- Penghormatan ini menyoroti perbedaan budaya dalam mengapresiasi atlet, menjadi refleksi bagi Indonesia.

Sir Garfield Sobers, yang dinobatkan sebagai pemain kriket serba bisa terhebat sepanjang masa, mendapat penghormatan kenegaraan di Barbados pada Jumat (19/7) lalu. Ribuan pelayat, termasuk para mantan rekan setim dan pejabat tinggi negara, hadir di Kensington Oval, Bridgetown, untuk melepas kepergian sang legenda yang meninggal pada 17 Juli pada usia 89 tahun.
Prosesi pemakaman dimulai dari gedung parlemen di Bridgetown, di mana peti jenazah Sobers yang dibalut bendera Barbados diarak dengan kereta meriam. Rombongan melewati barisan kehormatan para pemain kriket yang mengangkat tongkat pemukul mereka sebagai tanda penghormatan. Perdana Menteri Mia Mottley, Presiden Jeffrey Bostic, dan superstar internasional Rihanna turut hadir, begitu pula para legenda kriket seperti Sir Clive Lloyd, Brian Lara, dan Desmond Haynes.
”Ini bukan momen sedih,” kata Lara dalam pidatonya. ”Ini adalah momen untuk merayakan kehidupan luar biasa dari pemain kriket serba bisa terhebat. Kami merayakan seorang pria yang memberikan segalanya bagi keluarganya, Barbados, Karibia, dan kami semua yang beruntung mengenalnya.” Sir Clive Lloyd menyebut Sobers sebagai ”manusia yang hidup di hati dan pikiran rakyat Karibia, sumber inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia.”
Bagi publik Indonesia yang tidak akrab dengan kriket, penghormatan ini menyajikan perspektif berbeda tentang bagaimana sebuah bangsa menghargai jasa olahragawannya. Di Indonesia, atlet legendaris kerap mendapat penghargaan berupa tanda jasa atau monumen, namun pemakaman kenegaraan dengan skala megah seperti ini masih jarang terjadi. Upacara ini menunjukkan bahwa prestasi olahraga bisa melampaui batas sekadar hiburan dan menjelma menjadi identitas nasional yang layak dihormati setinggi mungkin.
Kehadiran skuad West Indies yang baru saja memenangi pertandingan Test melawan Pakistan menambah semarak upacara. Kapten Roston Chase dan wakilnya Jomel Warrican, keduanya putra Barbados, turut memberi penghormatan. Pesan dari Raja Charles III dibacakan oleh Pendeta Canon Guy Hewitt, yang menyebut Sobers sebagai sosok yang namanya dapat membawa senyum bagi masyarakat Barbados, Karibia, dan Persemakmuran.
Setelah upacara, jenazah Sobers dimakamkan di Coral Ridge Memorial Gardens, selatan Barbados. Warisannya terus hidup melalui paviliun yang dinamai menurut namanya di Kensington Oval dan prestasi yang tak lekang waktu. Namun, pertanyaan tetap menggantung: apakah Indonesia, dengan beragam olahraga tradisional dan modern yang dimilikinya, akan mampu memberikan penghormatan serupa kepada para atlet legendarisnya di masa depan?



