Skandal 'Jari Klik' Guncang Dunia Kriket Inggris: Saltburn Mundur dari Pertandingan
Baca dalam 60 detik
- Saltburn Cricket Club mencabut partisipasi tim keduanya dalam laga piala setelah video dugaan kecurangan pemukul Brian Devine viral.
- Investigasi liga resmi digelar menyusul tuduhan bahwa Devine mengklik jari untuk mengelabui wasit saat bola ditangkap.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang sportivitas di kriket akar rumput, dengan video asli ditonton lebih dari 7,5 juta kali di X.

Saltburn Cricket Club memutuskan mundur dari pertandingan Divisi Dua Hundred melawan Marton pada Rabu (17/7) malam, hanya sehari setelah klub tersebut diselidiki atas dugaan kecurangan yang videonya viral di media sosial. Keputusan itu diambil dengan alasan liburan musim panas membuat tim tidak bisa diperkuat penuh, namun publik lebih menyoroti kontroversi yang melibatkan pemukul Brian Devine.
Insiden bermula saat Saltburn mengalahkan Norton di Divisi 2 pada Senin (15/7). Dalam sebuah video yang beredar luas, Devine tampak mengklik jari tepat saat bola melewati bat pemukul Norton, Noman Shabir, dan ditangkap oleh penjaga gawang Josh Bowes. Wasit kemudian mengabulkan appeal dan Shabir dinyatakan out. Rekaman itu langsung menjadi perbincangan hangat, dengan akun-akun kriket menyebut Devine sebagai 'Clicky Ponting'—plagi dari julukan legenda Australia Ricky Ponting.
Liga Kriket North Yorkshire dan South Durham segera membuka investigasi setelah menerima keluhan resmi. Pada Selasa (16/7) malam, perwakilan Saltburn, Norton, liga, dan kuasa hukum menggelar pertemuan tertutup, namun hasilnya belum diumumkan. England and Wales Cricket Board (ECB) pun memilih bungkam. Sementara itu, beredar pula video-video lain dari pertandingan sebelumnya yang menunjukkan aksi serupa oleh Devine.
Fenomena ini mengingatkan pada skandal-serupa di olahraga lain, seperti 'ball-tampering' dalam kriket Australia atau kontroversi wasit di sepak bola. Di Indonesia, kriket memang belum sepopuler bulu tangkis atau sepak bola, namun insiden ini bisa menjadi pelajaran penting bagi klub-klub lokal yang mulai berkembang. “Sportivitas adalah fondasi olahraga apa pun, termasuk kriket. Ketika kecurangan direkam dan disebar, dampaknya bukan hanya pada satu pertandingan, tetapi pada kepercayaan terhadap olahraga itu sendiri,” ujar pengamat olahraga Universitas Indonesia, Andi Kurniawan, dalam pernyataan tertulis.
Ke depannya, liga kemungkinan akan menjatuhkan sanksi kepada Saltburn atau Devine jika terbukti bersalah. Namun, tanpa pengakuan atau bukti baru, kasus ini bisa menjadi preseden bagaimana media sosial mengubah cara wasit dan pemain menghadapi tekanan. Akankah kriket Inggris—dan olahraga pada umumnya—semakin ketat dalam mengatur etika di lapangan? Pertanyaan itu kini menggantung di tengah sorotan kamera ponsel yang tak pernah padam.



