Kontroversi Jari Jepit di Liga Kriket Inggris: Bukti Kecurangan atau Suara Salah Dengar?
Baca dalam 60 detik
- Pemain divisi dua Saltburn, Brian Devine, dituduh menjepit jari saat bola lewat untuk meniru suara terkena bat, menyebabkan lawan out kontroversial.
- Video viral memicu perdebatan sportivitas, dengan klub sudah menskors Devine dan menunggu investigasi.
- Insiden ini mengingatkan pada praktik curang yang kerap terjadi di kriket, namun sulit dibuktikan tanpa pengakuan atau bukti jelas.

Kontroversi mencuat di kriket Inggris setelah Brian Devine, pemain Saltburn, dituding menjepit jari untuk menipu wasit—sebuah aksi curang yang videonya viral dan memicu perdebatan sengit soal sportivitas.
Dalam pertandingan Saltburn melawan Norton di North Yorkshire and South Durham Cricket League, Devine diduga menjepit jari tepat saat bola melewati bat lawan. Suara jepitan itu diyakini membuat wasit mengira terjadi kontak, sehingga pemukul dinyatakan out. Video berlabel 'grainy' (bukram) menjadi satu-satunya bukti yang beredar luas, mengundang spekulasi dari warganet hingga pengamat kriket.
Berbeda dengan kasus diving di sepak bola yang sering ambigu, kontroversi ini terkesan lebih sederhana. Namun, demikian, penentuan bersalah atau tidak tetap rumit karena hanya bergantung pada rekaman berkualitas rendah. Jonathan Agnew, komentator BBC yang juga mantan pemain, menekankan pentingnya proses investigasi yang adil. "Kita semua telah membuat kesimpulan dari video yang buram. Jika Devine benar-benar bisa menjepit jari begitu keras hingga wasit mendengarnya di luar lapangan, dengan segala kebisingan lain, jelas ia harus dihukum. Tapi itu harus setelah sidang yang layak," ujarnya.
Di Indonesia, olahraga kriket mungkin tidak sepopuler sepak bola atau bulu tangkis, namun isu kecurangan dalam kompetisi selalu relevan. Kasus ini mengingatkan bahwa integritas wasit dan proses investigasi yang transparan menjadi kunci kepercayaan publik. Di Tanah Air, skandal serupa kerap terjadi, seperti pengaturan skor di sepak bola, yang menunjukkan bahwa godaan curang tidak mengenal batas negara atau cabang olahraga.
Jika terbukti bersalah, Devine tidak hanya akan menerima sanksi individu, tetapi mungkin juga timnya akan diselidiki terkait keterlibatan pemain lain. Agnew mengingatkan bahwa praktik curang semacam ini sudah ada sejak dulu. Ia mencontohkan pengalamannya bermain di county bersama Andy Roberts, saat seorang wicketkeeper sengaja berlari di tempat dengan keras untuk mengganggu konsentrasi pemukul. "Itu juga bentuk kecurangan, meski berbeda dari yang sekarang viral," kenangnya.
Ke depan, kasus ini akan menjadi ujian bagi mekanisme disiplin kriket Inggris. Apakah investigasi akan transparan? Apakah sanksi diberikan secara proporsional? Lebih dari itu, insiden ini membuka kembali perdebatan tentang 'Spirit of Cricket'—sebuah kode etik yang dianggap unik dalam olahraga ini. Agnew mengakui bahwa sulit mencapai konsensus soal batasan sportivitas. "Setiap orang punya interpretasi berbeda. Itulah yang membuatnya rumit," tutupnya.



