Cucu Idi Amin Didiskualifikasi di Commonwealth Games karena Headbutt, Tuduh Wasit Rasis
Baca dalam 60 detik
- Petinju Uganda Aziz Abdul, cucu diktator Idi Amin, didiskualifikasi dari pertandingan Commonwealth Games setelah melakukan headbutt ke lawan asal Inggris.
- Abdul mengklaim keputusan wasit dipengaruhi oleh rasisme, merujuk pada statusnya sebagai 'pria kulit hitam Afrika'.
- Kekalahan ini menggagalkan ambisi Abdul meraih medali Commonwealth pertama Uganda sejak 1990, sekaligus mengulang kontroversi masa lalu keluarganya.

Petinju kelas super berat asal Uganda, Aziz Abdul, yang juga cucu mantan diktator Idi Amin, harus rela tersingkir dari Commonwealth Games setelah wasit mendiskualifikasinya pada ronde ketiga laga menghadapi Damar Thomas asal Inggris. Insiden terjadi saat kedua petinju saling bergulat dan kepala Abdul terangkat mengenai dagu Thomas, sebuah aksi yang dinilai wasit sebagai headbutt yang disengaja.
Keputusan itu sontak memicu reaksi keras dari Abdul. Petinju berusia 25 tahun tersebut menuding wasit dan juri telah bersikap tidak adil. "Saya adalah pria kulit hitam Afrika, dia (Thomas) bertarung di tanah kelahirannya. Lihat saja pertarungan sebelumnya, petinju Inggris banyak melakukan pelanggaran tetapi tidak pernah dihukum," ujarnya usai pertandingan. Abdul juga mengklaim pukulan kerasnya tidak pernah dihitung, sementara dirinya terus dikurangi poin. Laporan BBC Sport menyebutkan bahwa Abdul sudah mendapat peringatan pada dua ronde sebelumnya dan tertinggal di semua kartu skor juri.
Kontroversi ini menjadi sorotan tersendiri mengingat latar belakang Abdul. Ia adalah cucu dari Idi Amin, diktator Uganda yang memerintah dengan tangan besi pada 1971-1979 dan bertanggung jawab atas kematian sekitar setengah juta orang. Amin, yang juga seorang petinju amatir, dikenal memiliki obsesi aneh terhadap Skotlandia. Ia kerap mengenakan kilt dan memainkan bagpipe, bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai "Raja Skotlandia" pada 1976. Sebelum pertandingan, Abdul sempat menyatakan ingin menjadi "Raja Skotlandia" yang baruโsebuah sindiran yang mengundang reaksi beragam.
Sementara itu, Damar Thomas yang otomatis mengamankan setidaknya medali perunggu, mengaku menang dengan cara yang tidak ia inginkan. "Saya tidak bisa mengubah apa yang terjadi hari ini, tapi saya bisa mengontrol bagaimana saya bertinju pada Jumat nanti," ucapnya. Abdul sendiri sebelumnya pernah menyatakan bahwa ia "terinspirasi" oleh kakeknya, meskipun tidak jelas apakah inspirasi itu dari sisi tinju atau lainnya. Ketika ditanya apakah ia bangga menjadi cucu seorang diktaktor, Abdul menolak menjawab.
Konteks Indonesia: Meski Indonesia bukan anggota Commonwealth, kasus Abdul memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya sportivitas dan pengendalian emosi di atas ring. Di Indonesia, tinju profesional kerap diwarnai insiden senggolan kepala yang berujung diskualifikasi. Kasus ini juga mengingatkan pada kontroversi yang melibatkan wasit di pertandingan tinju nasional, di mana isu subyektivitas dan dugaan keberpihakan sering mencuat. Para atlet Indonesia tentu harus belajar bahwa setiap gerakan di atas ring diawasi ketat, dan keluhan setelah pertandingan jarang mengubah hasil akhir.
Meski mendaku sebagai korban, rekaman pertandingan menunjukkan Abdul kerap memeluk Thomas dan beberapa kali gerakan kepalanya terlihat agresif. Dunia tinju kini menanti respons resmi dari panitia penyelenggara Commonwealth Games dan federasi tinju dunia. Akankah Abdul mengajukan banding? Ataukah kontroversi ini justru menambah catatan kelam dalam sejarah tinju Uganda, yang harus berjuang bangkit dari bayang-bayang masa lalu kelam keluarganya?



