Anggaran Jadi Batu Sandungan Pembinaan Sepak Bola Putri Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Anggota Exco PSSI menegaskan keterbatasan dana, bukan minimnya minat, menjadi hambatan utama pengembangan sepak bola putri di tanah air.
- Prestasi timnas putri Indonesia yang juara AFF membuktikan potensi besar, namun pembinaan usia muda di daerah terhambat biaya operasional.
- Program pembinaan swasta seperti MilkLife Soccer Challenge dan Hydroplus Soccer League dinilai sebagai solusi konkret yang selama ini absen dari PSSI.

Anggota Komite Eksekutif PSSI, Vivin Sungkono Cahyani, menegaskan bahwa hambatan terbesar dalam pengembangan sepak bola putri di Indonesia bukanlah rendahnya minat pemain, melainkan keterbatasan anggaran. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Srikandi Merdeka Cup 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Vivin, antusiasme perempuan muda untuk bermain sepak bola justru terus meningkat, terutama setelah prestasi tim nasional yang kian mentereng. “Kalau bicara kesulitan, semuanya kembali ke budget. Keinginan anak-anak untuk main bola sudah kuat,” ujarnya. Ia mencontohkan keberhasilan timnas putri yang berhasil merebut gelar juara ASEAN Championship sebagai bukti bahwa Indonesia tidak kalah bersaing di level regional.
Namun, di balik prestasi itu, pembinaan di tingkat provinsi menghadapi dilema. Vivin menjelaskan, asosiasi provinsi (Asprov) dibebani kewajiban menyelenggarakan berbagai kompetisi PSSI—mulai dari Piala Soeratin hingga Liga 4—tanpa tambahan dukungan dana yang memadai. “Asprov enggak mampu kalau harus menggelar semua itu sambil juga diwajibkan mengadakan kompetisi putri,” katanya. Akibatnya, pengembangan pemain putri di daerah kerap terhenti di tengah jalan.
Di tengah keterbatasan itu, kehadiran pihak swasta menjadi angin segar. Vivin mengapresiasi Yayasan Bakti Olahraga Djarum Foundation yang menjalankan program pembinaan berjenjang melalui MilkLife Soccer Challenge (MLSC) untuk kelompok usia U10 dan U12, Hydroplus Soccer League (HSL) untuk U15-U18, serta Srikandi Merdeka Cup untuk U16. “Trilogi ini sudah menjawab tantangan yang bertahun-tahun tidak ada solusi di PSSI. Saya berharap konsistensi ini berlanjut,” ungkapnya.
Langkah Djarum Foundation ini dinilai menjadi model kemitraan yang ideal, di mana swasta mengambil peran yang selama ini kosong dari federasi. Ke depannya, PSSI diharapkan tidak hanya mengandalkan sponsor tetapi juga mengalokasikan anggaran khusus untuk pembinaan putri, agar prestasi yang sudah diraih bisa berkelanjutan. Pertanyaannya, mampukah PSSI merumuskan skema pendanaan yang lebih terstruktur untuk memastikan regenerasi pemain putri tidak terputus?



