KK Family: Rahasia Nama Alliteratif Karlie Kloss dan Misi Kode untuk Remaja
Baca dalam 60 detik
- Karlie Kloss dan ketiga saudarinya sama-sama berinisial KK, keputusan orang tua yang dianggap 'ahead of trend'.
- Selain sebagai model dan ibu tiga anak, Karlie mendirikan Kode with Klossy untuk mendorong minat coding pada remaja perempuan.
- Buku terbarunya 'Spaghetti Code' diharapkan bisa menginspirasi adik-adik dari peserta program untuk belajar coding sejak dini.

Supermodel asal Amerika Serikat, Karlie Kloss, baru-baru ini mengungkapkan kisah di balik nama dirinya dan ketiga saudarinya yang memiliki inisial sama: KK. Menurutnya, sang orang tua sudah 'jauh mendahului tren' ketika memberi nama mereka pada era 1990-an, sebelum fenomena keluarga Kardashian yang juga menggunakan inisial K mewabah.
Kloss—yang memiliki kakak perempuan bernama Kristine serta adik kembar Kimberly dan Kari Ann—menyebut keputusan itu sebagai 'komitmen nyata'. Dalam wawancara dengan ScaryMommy, ia tertawa mengenang masa lalu, "Saya rasa orang tua saya tidak tahu tentang keluarga Kardashian saat itu. Tapi kami semua adalah para 'KK'!" Namun, konsistensi inisial itu juga membuat neneknya sering tertukar nama. "Beliau sampai sekarang masih memanggil saya dengan nama yang salah," aku wanita yang juga dikenal sebagai pendiri lembaga non-profit Kode with Klossy ini.
Menjadi ibu dari tiga anak—Levi, Elijah, dan Rae—bersama suami Joshua Kushner, Kloss mengaku kini mengalami kebingungan serupa. "Saya punya tiga anak dan tanpa sengaja sering salah panggil, meski nama mereka tidak dimulai dengan huruf yang sama. 'Mum brain' itu nyata," ujarnya.
Di luar dunia modeling, Kloss aktif memberdayakan perempuan muda melalui literasi digital. Program musim panas Kode with Klossy yang didirikannya pada 2015 telah melatih ribuan siswa perempuan usia 13–18 tahun di berbagai negara. Kini, ia meluncurkan buku anak bergambar berjudul Spaghetti Code sebagai jembatan untuk adik-adik dari peserta program. "Saya ingin menciptakan titik sentuh yang bisa menjangkau perempuan muda lebih awal dari kamp atau program utama kami," jelas Kloss.
Buku tersebut mengisahkan Kelly Kent, seorang pahlawan cilik yang 'menggunakan kemampuan coding supernya untuk menyelamatkan situasi dan membantu pemilik usaha kecil di kota'. Menurut Kloss, semangat ini tidak jauh berbeda dengan para peserta program nyata yang menggunakan keterampilan coding mereka untuk membangun ide-ide yang membantu komunitas atau merintis bisnis kecil. "Alasan saya menulis buku ini adalah karena ingin menyampaikan kisah semacam itu untuk audiens yang lebih muda," tambahnya.
Inisiatif seperti Kode with Klossy dan buku Spaghetti Code menjadi relevan di tengah kebutuhan global akan talenta digital, termasuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri gencar mendorong literasi coding dan STEM di kalangan pelajar. Langkah Karlie Kloss—dari nama keluarga yang unik hingga misi sosialnya—menunjukkan bahwa konsistensi dan inovasi dapat dimulai dari hal kecil. Pertanyaannya, apakah para ibu di Tanah Air terinspirasi untuk mulai memperkenalkan coding kepada anak-anak perempuan mereka sejak dini?



