Rupiah Terperosok ke Rp18.083, The Fed dan Transisi BI Jadi Beban Ganda
Baca dalam 60 detik
- Rupiah melemah 0,41% ke Rp18.083 per dolar AS pada Selasa, dipicu ekspektasi The Fed tahan suku bunga.
- Transisi kepemimpinan BI usai Perry Warjiyo mundur menambah tekanan, meski Destry Damayanti dianggap meredam kekhawatiran.
- Pasar menanti sinyal kebijakan The Fed dan kepastian Gubernur BI definitif untuk arah rupiah selanjutnya.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level terendah baru pada penutupan perdagangan Selasa, merosot 74 poin atau 0,41 persen ke Rp18.083 per dolar AS, seiring spekulasi pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menahan suku bunga acuannya.
Tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar setelah data menunjukkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga mencapai 62 persen berdasarkan alat ukur CME FedWatch. Keputusan bank sentral AS yang dijadwalkan pada Rabu (29/7) itu menjadi momok bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berpotensi memperpanjang arus modal keluar.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa ketidakpastian global kian kompleks. Selain sikap hawkish The Fed, situasi geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk prospek. Harga minyak mentah yang melonjak sekitar 20 persen dalam dua pekan akibat ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz ikut menekan rupiah. "Federal Reserve diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga pada Rabu," ujarnya.
Dari dalam negeri, pasar sempat dihadapkan pada kejutan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo secara mendadak. Langkah itu memicu gelombang ketidakpastian di tengah depresiasi rupiah yang terus berlanjut dan tren kenaikan suku bunga global. Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas Gubernur BI direspons positif. Ibrahim optimistis bahwa pengalaman Damayanti akan memperkuat komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan.
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menyikapi pengunduran diri Perry Warjiyo dengan tenang. Sovereign Analyst S&P, Rain Yin, menyatakan bahwa langkah tersebut tidak berdampak langsung terhadap peringkat utang Indonesia, meskipun bisa meningkatkan risiko prospek kebijakan. "Pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia, meski dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara," jelas Ibrahim mengutip pernyataan Yin kepada Bloomberg.
Perhatian pasar kini tertuju pada dua variabel utama. Pertama, keputusan suku bunga The Fed dan pernyataan Ketua Fed Kevin Warsh yang dikenal hawkish. Warsh telah meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap operasional The Fed dengan membentuk lima gugus tugas, termasuk yang membahas komunikasi dan kerangka kerja inflasi. Kedua, proses seleksi Gubernur BI definitif yang diharapkan berjalan mulus tanpa mengganggu kredibilitas dan independensi bank sentral.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga ikut melemah ke Rp18.088 per dolar AS, memperkuat sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Dengan kondisi global yang tidak menentu dan transisi kepemimpinan BI yang belum selesai, pertanyaan yang mengemuka: apakah rupiah akan menemukan titik stabil, atau justru kembali terperosok menuju level Rp18.200 dalam waktu dekat? Jawabannya bergantung pada konsistensi kebijakan moneter domestik dan sinyal dovish dari The Fed.


