Little House Chiang Mai: Ketika Memori Masa Kecil dan Kriya Lokal Bersatu dalam Restorasi
Baca dalam 60 detik
- Desainer Narisa Watananun merestorasi rumah warisan keluarganya di kawasan Wat Ket, Chiang Mai, dengan pendekatan yang mengedepankan keaslian dan keterlibatan pengrajin lokal.
- Proyek ini menjadi ajang unjuk kemampuan perajin Thailand, mulai dari pembuatan lampu Lanna hingga anyaman indigo, tanpa bergantung pada produk massal.
- Rumah yang kini disewakan untuk hunian jangka menengah telah menarik minat ekspatriat dan desainer, membuktikan daya tarik arsitektur vernakular yang dihidupkan kembali.

Seorang desainer tekstil yang menghabiskan masa kecilnya di Chiang Mai memutuskan untuk kembali dan menyulap rumah warisan keluarganya menjadi hunian yang memadukan memori, sejarah, dan kearifan lokal. Lebih dari sekadar proyek desain interior, Little House Chiang Mai adalah upaya merawat identitas kawasan Wat Ket yang perlahan tergerus arus pariwisata.
Narisa Watananun, pendiri Studio Baro yang berbasis di Singapura, dikenal dengan sentuhan minimalis pada sejumlah restoran dan hotel. Namun proyek terbarunya bersifat personal: tiga rumah kayu milik kakeknya yang dibongkar dari pedesaan dan dipasang ulang di Wat Ket, kampung halamannya. Little House Chiang Mai adalah rumah pertama yang berhasil direstorasi.
Bagi Watananun, rumah itu bukan sekadar bangunan. “Saya merasakan ada semangat yang sedikit meredup,” ujarnya saat pertama kali memeriksa struktur rumah. Alih-alih melakukan renovasi besar-besaran, ia memilih pendekatan editing: memperbaiki dapur dan kamar mandi, membuka sebagian dinding untuk sirkulasi, serta mempertahankan dinding dan lantai kayu yang memberi karakter vernakular.
“Pendekatan saya lebih pada menyunting dan memulihkan, bukan menciptakan ulang. Rumah ini sudah memiliki inti yang indah dan sejarahnya sendiri.” — Narisa Watananun
Perhatian terhadap detail lokal sangat terasa. Watananun mengganti kisi-kisi besi tempa yang rumit dengan jeruji sederhana dan tirai linen, memilih hasil akhir mat agar cahaya lebih lembut. Di puncak tangga, ia mengganti jendela dengan kasa nyamuk untuk mempertahankan sensasi terbuka—suara angin, rintik hujan, dan gemerisik daun ikut masuk. Sebuah lampu Lanna berukuran besar yang dirancangnya dan dibuat oleh perajin setempat bahkan menjadi logo rumah tersebut.
Komitmen terhadap kriya lokal menjadi ciri utama. Watananun sengaja membatasi penggunaan produk massal. Ia memesan sofa dengan kedalaman dudukan yang diuji berkali-kali, meja kopi teraso dari perajin di Lampang, dan permadani indigo dari Kalasin. Bahkan, ia bekerja sama dengan komunitas Akha untuk membuat kursi anyaman kulit. “Dua minggu setelah saya hubungi, mereka berkirim pesan: ‘Kami sudah punya sapi untuk Anda.’” Saat tiba, kulit masih tergantung setelah hewannya digunakan untuk daging. Pengalaman itu, menurutnya, mengingatkan betapa pentingnya mengetahui asal-usul material.
Bagi pembaca di Indonesia, pendekatan ini menawarkan pelajaran berharga. Indonesia memiliki khazanah kriya yang tak kalah kaya—dari tenun ikat hingga anyaman rotan—namun sering terabaikan dalam proyek restorasi. Upaya Watananun menunjukkan bahwa melibatkan pengrajin lokal tidak hanya menghidupkan ekonomi, tetapi juga memberi jiwa pada bangunan. Di Wat Ket, kerajinan tradisional menjadi napas yang membuat rumah tua terasa hangat dan relevan.
Little House Chiang Mai kini menginspirasi gelombang baru pelestarian yang tidak kaku. Watananun sengaja membiarkan beberapa ruang kosong agar penyewa bisa mengisinya dengan temuan mereka sendiri dari Chiang Mai. “Saya tidak ingin rumah ini terasa seperti set panggung,” katanya. Hasilnya, penyewa—termasuk desainer Singapura Marcus Mohan yang pindah ke Chiang Mai—merasakan kehangatan yang autentik sejak pertama masuk. Mohan memuji suasana yang ‘sudah terasa seperti rumah’ dan pemandangan taman dari wastafel dapur.
Ke depan, model restorasi yang mengedepankan kolaborasi dengan pengrajin lokal mungkin akan menjadi tren di Asia Tenggara. Namun pertanyaan besarnya: mampukah para pemilik rumah warisan di Indonesia—dengan segala keterbatasan regulasi dan kesadaran—mengikuti jejak serupa? Little House Chiang Mai membuktikan bahwa jawabannya terletak pada kemauan untuk kembali ke akar, mendengar bisikan sejarah, dan memberi ruang bagi tangan-tangan terampil yang selama ini tak terlihat.