Karier Manajerial Jermain Defoe Berakhir Singkat: Hanya 116 Hari di Woking
Baca dalam 60 detik
- Mantan striker timnas Inggris Jermain Defoe hengkang dari Woking setelah hanya 116 hari dan enam laga liga, dengan klaim 'kesepakatan bersama'.
- Kepergian mendadak ini terjadi dua pekan sebelum musim baru, memicu spekulasi soal konflik internal atau masalah di luar lapangan.
- Defoe menyebut pengalaman ini 'membuka mata', namun kegagalan di klub non-liga bisa menghambat ambisinya menjadi manajer penuh waktu.

Jermain Defoe, mantan penyerang timnas Inggris yang namanya harum di Premier League, harus mengakhiri petualangan manajerial perdananya lebih cepat dari perkiraan. Klub National League, Woking, mengumumkan pada Kamis (25/7) bahwa mereka telah 'sepakat untuk berpisah secara bersama' dengan Defoe, hanya 116 hari setelah ia ditunjuk sebagai pengganti Neal Ardley pada Maret lalu.
Defoe, 43 tahun, hanya memimpin Woking dalam enam pertandingan liga dan tiga laga pramusim. Dari enam laga kompetitif musim lalu, ia berhasil membawa tim finis di peringkat ke-10. Namun, kekalahan 1-0 dari Braintree Town dalam laga pramusim Selasa lalu menjadi pertandingan terakhirnya. Padahal, beberapa hari sebelumnya Defoe mengaku antusias menyambut musim baru yang akan dimulai dua pekan lagi melawan Sutton United.
Dalam pernyataan di Instagram, Defoe mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemilik klub Todd Johnson, namun tidak menyebut nama direktur sepak bola Jody Brown. Ketiadaan nama Brown dalam ucapan terima kasih itu memicu spekulasi bahwa telah terjadi ketegangan internal. Defoe hanya mengatakan, 'Sayangnya, keadaan membuat saya tidak mungkin melanjutkan posisi ini.' Ia menambahkan bahwa pengalaman ini 'membuka mata' dan akan membuatnya lebih kuat untuk tantangan berikutnya.
Kepergian mendadak ini mengejutkan banyak pihak, terutama suporter Woking yang antusias sejak kedatangan Defoe. Beberapa pemain yang direkrut musim panas ini bahkan mengaku bergabung karena nama besar Defoe. Namun, indikasi masalah di luar lapangan—mungkin terkait perbedaan visi dengan manajemen—menjadi sorotan utama. Defoe sendiri dikenal sebagai pribadi yang tenang dan profesional, sehingga keputusan ini dinilai tidak terduga.
Bagi Defoe, ini adalah pukulan telak dalam ambisinya menjadi manajer penuh waktu. Sebelumnya, ia pernah menjadi bagian staf pelatih interim di Rangers pada 2021 dan bekerja di akademi Tottenham sebelum hengkang pada 2024 untuk fokus menjadi manajer. Pengalaman singkat di Woking justru menjadi batu sandungan, bukan batu loncatan. Sementara itu, Woking harus berburu pelatih kepala baru di saat yang tidak ideal, hanya dua pekan sebelum kompetisi dimulai.
Dari sudut pandang sepak bola Indonesia, kisah Defoe mengingatkan bahwa transisi dari pemain bintang ke manajer tidak selalu mulus. Banyak legenda yang gagal di kursi pelatih, seperti yang juga terjadi di Liga Indonesia. Pelajaran berharga: reputasi sebagai pemain tidak otomatis menjamin kesuksesan di ruang ganti sebagai pelatih. Defoe mungkin perlu memulai dari level yang lebih rendah atau sebagai asisten sebelum mengambil alih kendali penuh.
Pertanyaan kini mengarah ke masa depan Defoe: akankah ia kembali ke akademi atau justru mencoba peruntungan di klub lain? Atau, akankah pengalaman pahit ini membuatnya mundur dari dunia kepelatihan? Satu hal pasti, dunia sepak bola selalu memberi kesempatan kedua—tapi tidak ada jaminan.



