Italia di Persimpangan: Lolos Euro 2028 Cukupkah Pulihkan Kepercayaan?
Baca dalam 60 detik
- Italia gagal lolos ke tiga Piala Dunia beruntun (2018, 2022, 2026), menandai krisis struktural sepak bola Negeri Pizza.
- FIGC melakukan reformasi besar-besaran dari akar rumput dan membidik pelatih top seperti Pep Guardiola untuk memimpin kebangkitan.
- Lolos ke Euro 2028 menjadi uji awal, namun target sesungguhnya adalah tampil di Piala Dunia 2030 sebagai tolak ukur pemulihan.

Empat kali juara dunia, namun dalam satu dekade terakhir Italia justru menjadi penonton di panggung terbesar sepak bola. Kegagalan menembus Piala Dunia 2026 menambah deretan panjang absennya Gli Azzurri dari turnamen global—ketiga kalinya secara berturut-turut setelah 2018 dan 2022. Situasi ini bukan lagi sekadar nasib buruk, melainkan cerminan masalah struktural yang menggerogoti sepak bola Italia dari akar.
Kepercayaan diri publik Italia runtuh seiring pensiunnya generasi emas seperti Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci tanpa kader pengganti yang sepadan. Liga domestik gagal memproduksi pemain level elite, sementara setiap kegagalan memperdalam luka dan mengikis kesabaran suporter. FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) pun akhirnya bergerak, tidak sekadar merombak susunan pemain, tetapi melakukan perubahan fundamental dari bawah ke atas.
Langkah pertama yang paling dinanti adalah penunjukan pelatih kepala baru untuk memimpin tim menuju Euro 2028 dan Piala Dunia 2030. FIGC dikabarkan membidik pelatih top dunia, dengan Pep Guardiola sebagai target utama. Langkah ini mengingatkan pada langkah serupa Jerman yang merekrut Jürgen Klopp setelah serangkaian kegagalan di turnamen besar. Jika terealisasi, hal itu akan menjadi sinyal kuat bahwa Italia serius kembali ke papan atas sepak bola internasional.
Namun, lolos ke Euro 2028 hanyalah langkah awal. FIGC sadar bahwa membangun kembali fondasi sepak bola Italia membutuhkan waktu dan kesabaran. Reformasi menyeluruh di semua lini—dari pembinaan usia muda hingga kompetisi domestik—sedang dijalankan. Tujuan akhirnya bukan sekadar tampil di turnamen, melainkan kembali menjadi kekuatan yang disegani, seperti era kejayaan mereka di masa lalu.
Bagi Indonesia, kisah Italia ini menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Tanah Air juga kerap menghadapi masalah serupa: kegagalan beruntun, regenerasi macet, dan reformasi yang setengah hati. Langkah FIGC yang berani mengakui akar masalah dan melakukan perubahan sistemik bisa menjadi contoh bahwa membangun kembali prestasi butuh keberanian untuk memulai dari nol, bukan sekadar menambal-nambal.
Pertanyaan besarnya: akankah FIGC konsisten menjalankan rencana jangka panjangnya? Atau akankah tekanan publik dan hasil instan membuat mereka kembali ke kebiasaan lama? Euro 2028 akan menjadi ujian pertama, tetapi jawaban sesungguhnya baru akan terlihat pada Piala Dunia 2030.



