IHSG Balik Arah di Sesi II: Sektor Finansial Jadi Biang Kerok, BBCA Terkoreksi 3,46%
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melemah 0,30% ke 6.315,31 setelah sempat menyentuh 6.437 di sesi pertama, dipicu aksi jual di sektor finansial.
- Saham BBCA menjadi pemberat utama dengan koreksi 3,46%, menghapus hampir 20 poin indeks, diikuti ASII dan TLKM.
- Level 6.400 kini menjadi resistance kritis: jika gagal dipertahankan, potensi profit taking jangka pendek terbuka lebar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan momentum penguatan sesi pertama dan ditutup merosot 0,30% ke level 6.315,31 pada perdagangan Kamis (23/7/2026), setelah sempat menembus level 6.400. Pembalikan arah ini terjadi di tengah ramainya transaksi senilai Rp23,94 triliun, namun tekanan dari sektor finansial yang menjadi pilar utama indeks membuat laju positif tak bertahan lama.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bergerak dalam rentang 6.306,65 hingga 6.437,20 sepanjang hari. Sebanyak 321 saham menguat, 299 saham melemah, dan 176 saham stagnan. Kapitalisasi pasar bursa terkikis menjadi Rp11.085 triliun. Volume perdagangan mencapai 63,32 miliar saham dengan frekuensi 3,19 juta kali transaksi, menandakan aktivitas investor yang tetap tinggi meski indeks berbalik arah.
Analis menilai pelemahan IHSG tidak lepas dari koreksi sektor finansial yang turun 1,47%, menjadi sektor dengan bobot terbesar di indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemberat utama setelah terkoreksi 3,46%, memangkas hampir 20 poin IHSG. Saham-saham lain seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turut menekan indeks di sesi kedua.
Dari sisi teknikal, keberhasilan IHSG menembus level 6.400 di sesi pertama sempat memberikan sinyal positif. Indeks yang sebelumnya mengakhiri reli sembilan hari berturut-turut pada Rabu, langsung bangkit dan mencetak higher high. Pada grafik harian, IHSG masih bergerak di atas weighted moving average (WMA) 9 di kisaran 6.257, mengonfirmasi tren naik jangka pendek. Namun, area 6.400 yang sempat ditembus kini berubah menjadi level resistance kritis yang harus dipertahankan.
Menurut pengamat pasar, jika IHSG mampu bertahan di atas 6.400 hingga penutupan perdagangan, peluang menuju level 6.450โ6.500 terbuka lebar. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat memicu aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek, mengingat indeks telah menguat lebih dari 23% sejak titik terendah awal Juni. Investor asing tercatat masih melakukan jual bersih (net foreign sell) Rp920,3 miliar pada perdagangan sebelumnya, namun optimisme investor domestik dan rotasi ke saham komoditas serta teknologi sempat menjaga momentum.
Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,25% sesuai ekspektasi pasar menjadi sentimen positif yang mendorong penguatan di sesi awal. Namun, tekanan jual di saham-saham berkapitalisasi besar akhirnya mendominasi. Bagi investor Indonesia, fluktuasi IHSG ini mengingatkan pentingnya mencermati pergerakan sektor finansial yang menjadi tulang punggung indeks. Ke depan, kemampuan IHSG bertahan di atas 6.400 akan menjadi indikator kunci apakah tren bullish masih berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi.



