Kredit Komersial dan UMKM Tumbuh Agresif, NPL Bank Mandiri Terjaga di Bawah 1%
Baca dalam 60 detik
- Bank Mandiri membukukan NPL 0,98% pada semester I-2026, di tengah ekspansi kredit komersial yang mencapai Rp343 triliun.
- Profitabilitas perseroan tetap solid dengan ROE 24,3% dan ROA 3,10%, didorong efisiensi dan imbal hasil kredit ritel-UMKM.
- Ekspansi kredit merata ke berbagai daerah, dengan pertumbuhan tertinggi di Jakarta-Banten dan Kalimantan, menandakan pemerataan ekonomi.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berhasil mempertahankan rasio kredit bermasalah (NPL) di level 0,98% hingga akhir Juni 2026, meskipun gencar menyalurkan kredit ke segmen komersial dan UMKM. Angka ini menunjukkan bahwa ekspansi agresif tidak mengorbankan kualitas aset, sebuah prestasi yang jarang terjadi di tengah tekanan ekonomi global.
Dalam paparan kinerja kuartal II-2026 secara daring, Kamis (23/7/2026), Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengungkapkan bahwa profitabilitas perseroan juga berada dalam kondisi sangat sehat. Return on equity (ROE) tercatat 24,3% dan return on assets (ROA) 3,10%, mencerminkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari modal dan aset yang dimiliki.
Segmen komersial menjadi motor utama pertumbuhan. Hingga semester I-2026, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit komersial sebesar Rp343 triliun, tumbuh 15% secara tahunan. Rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir mencapai 18%, dengan NPL segmen ini hanya 0,63%โjauh di bawah rata-rata industri. Perseroan saat ini menjadi mitra bagi sekitar 55 ribu pelaku usaha komersial di seluruh Indonesia.
Dari sisi sebaran wilayah, pertumbuhan kredit komersial tertinggi terjadi di Jakarta dan Banten (19,1%), disusul Kalimantan (15,3%), Jawa dan DIY (11,7%), serta Sumatera dan wilayah lainnya (6,78%). Totok menilai pola ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi mulai merata ke daerah lain. Bank Mandiri berperan sebagai mitra bagi perusahaan lokal yang ingin naik kelas menjadi pemain nasional.
Sektor-sektor strategis yang menjadi sasaran pembiayaan meliputi kelapa sawit (CPO), batu bara, transportasi air, perdagangan barang dan jasa, keuangan, air, serta makanan dan minuman (F&B). Pemilihan sektor ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan ketahanan pangan.
Tak hanya segmen komersial, Bank Mandiri juga memperkuat pembiayaan UMKM. Perseroan mengklaim pertumbuhan kredit UMKM tersebar merata hingga ke pulau-pulau terluar, tanpa terkonsentrasi di satu wilayah. Hal ini didukung oleh optimalisasi imbal hasil kredit ritel dan UMKM, sehingga masyarakat tetap mendapatkan pembiayaan terjangkau tanpa mengorbankan profitabilitas bank.
Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang tinggi, kualitas aset terjaga, dan profitabilitas solid, Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan momentum hingga akhir 2026. Pertanyaannya, mampukah bank pelat merah ini menjaga keseimbangan serupa saat tekanan likuiditas global meningkat dan suku bunga acuan berpotensi naik?



