Moody's Beri Sinyal Negatif, Bos Danantara: Respons Investor Justru Positif
Baca dalam 60 detik
- Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk obligasi Danantara Investment Management, namun CEO Rosan Roeslani menegaskan hal itu terkait sovereign rating, bukan fundamental perusahaan.
- Roadshow Danantara di enam kota global diikuti lebih dari 120 institusi, menghasilkan yield obligasi 5,35% dan memicu rencana penerbitan tenor di atas 10 tahun.
- Peringkat Danantara masih bergantung pada dukungan pemerintah karena DIM belum memiliki rekam jejak operasional mandiri, namun likuiditas dinilai cukup baik.

Lembaga pemeringkat internasional Moody's memberikan peringkat Baa2 dengan prospek negatif untuk obligasi global Danantara Investment Management (DIM), anak usaha BPI Danantara. Namun, CEO BPI Danantara Rosan Roeslani membantah jika outlook tersebut diartikan sebagai cerminan buruknya fundamental perusahaan. Menurutnya, penilaian Moody's lebih merefleksikan kondisi sovereign rating Indonesia, bukan kinerja internal Danantara.
"Itu kan sovereign rating," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (23/7/2026). Ia menegaskan bahwa penerbitan obligasi global Danantara justru mendapat sambutan hangat dari investor internasional. Obligasi bertenor 5 dan 10 tahun yang baru diterbitkan berhasil mencatatkan yield 5,35%, angka yang dianggap kompetitif di pasar saat ini.
Antusiasme investor terlihat dari rangkaian roadshow yang digelar Danantara di enam pusat keuangan dunia: Singapura, Hong Kong, Jepang, Boston, New York, dan London. Lebih dari 120 perusahaan ikut serta dalam pertemuan tersebut. "Responsnya sangat positif. Kami juga sedang mengkaji kemungkinan penerbitan obligasi jangka panjang di atas 10 tahun," kata Rosan.
Dalam laporannya, Moody's menjelaskan bahwa peringkat Baa2 untuk obligasi DIM selaras dengan penilaian kredit pemerintah Indonesia. Hal ini disebabkan DIM merupakan entitas baru yang belum memiliki rekam jejak operasional mandiri. "Peringkat tersebut terutama didorong oleh keterkaitan dengan pemerintah daripada kekuatan kredit mandiri," tulis Moody's. Lembaga itu juga belum memberikan baseline credit assessment (BCA) karena DIM belum beroperasi sebagai entitas usaha independen.
Meski demikian, Moody's mengakui likuiditas DIM cukup baik, didukung suntikan modal dari BPI Danantara. Langkah ini dinilai strategis untuk membangun pendanaan eksternal di tengah upaya ekspansi. Bagi investor Indonesia, outlook negatif dari Moody's menjadi pengingat bahwa risiko sovereign masih membayangi instrumen utang BUMN. Namun, respons positif pasar global menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek Danantara tetap kuat, setidaknya dalam jangka pendek.
Ke depan, tantangan bagi Danantara adalah membangun rekam jejak operasional yang cukup agar peringkat kreditnya bisa lebih mencerminkan fundamental sendiri, bukan hanya bergantung pada dukungan pemerintah. Apakah Danantara mampu mempertahankan minat investor jika kondisi fiskal Indonesia memburuk? Pertanyaan ini akan menjadi ujian kredibilitas bagi perusahaan pelat merah tersebut.



