BI Pilih Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat Tipis meski Bertentangan dengan Ekspektasi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, melawan konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 25 bps.
- Rupiah ditutup menguat 0,03% ke Rp17.875/US$ setelah sempat melemah di awal perdagangan, didorong ekspansi insentif aliran modal asing.
- Keputusan ini menandai jeda pengetatan moneter setelah tiga bulan berturut-turut naik, dengan fokus pada stabilitas rupiah dan inflasi.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21โ22 Juli 2026, sebuah langkah yang bertolak belakang dengan prediksi mayoritas pelaku pasar yang mengharapkan kenaikan 25 basis poin. Keputusan ini justru direspons positif oleh pasar valuta asing, dengan rupiah berhasil membalikkan pelemahan awal dan ditutup menguat tipis 0,03% ke posisi Rp17.875 per dolar AS, berdasarkan data Refinitif.
Pada pembukaan perdagangan Rabu (22/7), rupiah sempat tertekan hingga melemah 0,22% ke level Rp17.920/US$, namun berbalik arah setelah pengumuman BI. Penguatan ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya, di mana rupiah menguat 0,28% ke Rp17.880/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,08% ke 101,092 pada pukul 15.00 WIB, memberikan ruang bagi mata uang emerging market untuk bernapas.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers menjelaskan bahwa kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Alih-alih menaikkan suku bunga, BI memilih memperluas kebijakan insentif guna menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik. "Kami memperkuat insentif untuk meningkatkan arus masuk portofolio asing, mempercepat pendalaman pasar uang dan valas, serta meningkatkan likuiditas," ujar Perry.
Keputusan menahan suku bunga ini mengejutkan pasar. Dari polling terhadap 14 institusi, delapan di antaranya memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga menjadi 6,00%. Enam responden lainnya memproyeksikan suku bunga tetap. Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps dari 4,75% menjadi 5,75% pada Juni, sehingga jeda ini dianggap sebagai langkah konsolidasi setelah pengetatan agresif.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, keputusan ini memberikan sinyal bahwa BI masih optimistis terhadap prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi tetap dijaga dalam kisaran sasaran 2,5% ยฑ 1%, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap akomodatif untuk mendorong pertumbuhan. Namun, langkah ini juga mengandung risiko: jika tekanan global meningkat, BI mungkin harus kembali menaikkan suku bunga di kemudian hari.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah strategi insentif ini cukup efektif untuk menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang, terutama jika bank sentral AS (The Fed) kembali menaikkan suku bunga. Pasar akan mencermati data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa pekan mendatang.



