IHSG Sesi I Terkoreksi 0,39%: Akhir dari Reli Sembilan Hari?
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,39% pada sesi pertama perdagangan Rabu (22/7/2026), mengakhiri tren penguatan sembilan hari beruntun.
- Koreksi terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan mayoritas analis akan naik 25 bps menjadi 6,00%.
- Meski mengalami koreksi, aliran dana asing yang masih positif dan volume transaksi yang tinggi menunjukkan fundamental pasar masih solid.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Rabu (22/7/2026) di zona merah, mematahkan reli kenaikan yang telah berlangsung selama sembilan hari berturut-turut. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,39% atau 24,47 poin ke level 6.315,55 pada jeda siang.
Koreksi ini terjadi di tengah volume transaksi yang masih tinggi, mencapai Rp11,24 triliun dengan 28,93 miliar saham diperdagangkan dalam 1,81 juta kali transaksi. Sebanyak 238 saham menguat, 366 saham melemah, dan 190 saham stagnan. Pelaku pasar tampak wait and see menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan siang ini.
Sebelumnya, IHSG mencatatkan penguatan spektakuler sebesar 1,74% pada penutupan Selasa (21/7/2026), menembus level 6.300. Reli sembilan hari beruntun ini merupakan yang terpanjang sejak Juli 2025, saat IHSG mampu naik hingga 11 hari berturut-turut. Sepanjang Juli 2026, indeks hanya sekali ditutup melemah, yakni pada 8 Juli, dan sejak itu telah menguat 7,93% secara point-to-point. Secara month-to-date (MtD), IHSG melesat 12,35%.
Yang menarik, penguatan kali ini diiringi oleh masuknya dana asing. Data BEI mencatat investor asing membukukan net buy sebesar Rp1,99 triliun sejak 16 Juli hingga 21 Juli 2026. Aliran dana asing mulai terlihat pada 16 Juli dengan net buy Rp1,22 triliun, disusul Rp638,05 miliar pada 17 Juli, Rp96,72 miliar pada 20 Juli, dan Rp31,36 miliar pada 21 Juli. Nilai transaksi harian juga meningkat, konsisten di atas Rp15 triliun dalam tiga hari terakhir, setelah sempat menjadi yang terendah sepanjang 2026 pada 10 Juli.
Sentimen utama yang membayangi pasar hari ini adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia. Berdasarkan polling CNBC Indonesia terhadap 14 institusi, delapan responden memperkirakan BI Rate naik 25 basis poin (bps) dari 5,75% menjadi 6,00%, sementara enam lainnya memproyeksikan tetap. Jika kenaikan terjadi, ini akan menjadi pengetatan keempat BI sepanjang 2026, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 bps sejak Mei. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi alasan utama di balik ekspektasi kenaikan tersebut.
Bagi investor Indonesia, koreksi tipis ini bisa diartikan sebagai konsolidasi wajar setelah reli panjang. Masuknya dana asing dan peningkatan likuiditas menunjukkan bahwa fundamental pasar masih positif. Namun, keputusan BI siang nanti akan menjadi penentu arah pergerakan selanjutnya. Jika suku bunga naik, sektor perbankan berpotensi diuntungkan, sementara sektor konsumen dan properti mungkin tertekan. Sebaliknya, jika suku bunga ditahan, reli IHSG berpeluang berlanjut.
Ke depan, pasar juga akan mencermati data eksternal seperti tingkat pengangguran Inggris dan neraca perdagangan Jepang. Pertanyaannya, akankah IHSG mampu mempertahankan momentum penguatannya di tengah ketidakpastian suku bunga dan gejolak global? Atau justru koreksi ini menjadi awal dari tren pelemahan yang lebih dalam?



