Liverpool Beri 432 Bans Seumur Hidup, Sita Aset Calo Tiket Rp24 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Klub sepak bola Liverpool bekerja sama dengan kepolisian Merseyside menyita aset calo tiket senilai lebih dari £1,2 juta atau sekitar Rp24 miliar.
- Sebanyak 432 individu mendapat larangan seumur hidup dan 115 lainnya diskors tanpa batas waktu akibat praktik penjualan tiket ilegal.
- Langkah ini merupakan bagian dari operasi besar yang juga memblokir puluhan ribu akun palsu dan mencegat 300 orang per laga kandang.

Liverpool FC mengambil langkah tegas dengan menjatuhkan 432 larangan seumur hidup kepada para calo tiket setelah polisi menyita aset senilai lebih dari £1,2 juta—setara dengan sekitar Rp24 miliar—dalam operasi bersama yang menyasar pencucian uang hasil penjualan tiket ilegal.
Operasi yang digelar bersama Kepolisian Merseyside ini tidak hanya menyita aset, tetapi juga mengungkap jaringan calo yang telah lama merugikan suporter setia. Detektif Kepala Inspektur Nick Suffield menyebut kolaborasi ini sebagai contoh luar biasa bagaimana klub dan aparat bekerja sama demi melindungi penggemar sejati yang kerap menjadi korban praktik percaloan.
Selain larangan seumur hidup, Liverpool juga menjatuhkan 115 sanksi skorsing tanpa batas waktu kepada pihak-pihak yang terlibat. Uang hasil sitaan dibagi antara Kepolisian Merseyside dan Kantor Dalam Negeri Inggris, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberantas ekonomi bawah tanah di industri sepak bola.
Langkah ini bukanlah yang pertama. Musim lalu, BBC Sport mengungkapkan Liverpool telah menutup 145.000 akun tiket dalam dua tahun terakhir sebagai bagian dari kampanye anti-percaloan. Klub juga menganalisis hampir 700.000 pendaftaran tiket, memblokir atau membatalkan 67.663 akun yang diduga palsu, serta masih menyelidiki 121.379 akun lainnya. Pada musim 2025-26, sebanyak 3.847 tiket dibatalkan karena aktivitas pembelian mencurigakan dan kemudian dijual kembali sebagai tiket umum—langkah yang secara langsung menambah ketersediaan tiket bagi suporter jujur.
Di luar data digital, Liverpool juga meningkatkan pengawasan fisik di stadion. Rata-rata 300 orang per laga kandang dicegah masuk ke pintu putar Anfield karena terindikasi menggunakan akun mencurigakan. Praktik serupa juga diterapkan pada pertandingan tandang, baik di Premier League maupun kompetisi Eropa.
Fenomena percaloan tiket sebenarnya bukan monopoli Inggris. Di Indonesia, praktik calo—yang kerap disebut "calo tiket"—marak terjadi pada laga-laga besar seperti final Piala Indonesia atau pertandingan tim nasional. Meski belum ada data resmi sebesar di Liverpool, kerugian suporter akibat harga tiket melambung tinggi sering dikeluhkan. Langkah Liverpool bisa menjadi referensi bagi klub-klub Indonesia, seperti Persija atau Persib, untuk bekerja sama dengan kepolisian setempat dalam memberantas praktik serupa. Regulasi yang lebih ketat dan sistem identifikasi digital mungkin perlu diadopsi untuk melindungi penggemar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah klub-klub lain di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, mengikuti jejak Liverpool? Atau justru calo akan semakin canggih dalam menghindari deteksi? Yang jelas, operasi ini membuktikan bahwa kolaborasi antara klub dan aparat penegak hukum mampu memberikan efek jera nyata.



