Robot Luar Angkasa Berteknologi Tinggi Siap Perpanjang Umur Satelit Tua
Baca dalam 60 detik
- Misi robotik Northrop Grumman bertujuan memasang jetpack pada tiga satelit komunikasi yang kehabisan bahan bakar, menghemat biaya penggantian hingga jutaan dolar.
- Teknologi ini menjadi bagian dari tren industri antariksa global untuk memperpanjang masa pakai satelit dan mengurangi sampah luar angkasa.
- Keberhasilan misi dapat membuka peluang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengelola aset satelitnya lebih efisien.

Sebuah robot antariksa berlengan dua berhasil diluncurkan dalam misi penyelamatan satelit komersial yang kehabisan bahan bakar di orbit geosinkron, Selasa lalu. Misi yang dihelat Northrop Grumman ini menandai langkah baru dalam upaya memperpanjang umur satelit komunikasi yang masih berfungsi namun kekurangan propelan.
Robot bernama Mission Robotic Vehicle (MRV) itu dibawa roket Falcon 9 milik SpaceX dari Cape Canaveral, Florida. Dalam perjalanan setahun ke orbit setinggi 36.000 kilometer, MRV akan membawa tiga jetpack bertenaga listrik yang nantinya dipasang pada satelit-satelit milik SES (Luksemburg) dan Optus (Australia). Jetpack seukuran mesin cuci itu akan memberikan dorongan tambahan agar satelit bisa beroperasi beberapa tahun lagi, alih-alih dipensiunkan.
Ini adalah misi kedua dalam sebulan terakhir yang fokus pada perpanjangan usia satelit. Sebelumnya, pesawat antariksa Katalyst Space Technologies dengan tiga lengan diluncurkan pada 3 Juli untuk menaikkan orbit Teleskop Swift milik NASA yang mulai turun akibat aktivitas matahari. NASA membayar 30 juta dolar AS untuk misi penyelamatan observatorium senilai hampir 400 juta dolar itu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Negara ini memiliki beberapa satelit komunikasi di orbit geosinkron, seperti Satria-1 yang baru diluncurkan. Dengan teknologi servis satelit, operator dalam negeri bisa menghemat biaya besar karena tidak perlu meluncurkan satelit pengganti setiap kali bahan bakar habis. Apalagi, peluncuran satelit baru memakan biaya tinggi dan waktu persiapan bertahun-tahun.
Northrop Grumman tidak berhenti di sini. Perusahaan ini berkolaborasi dengan Laboratorium Riset Angkatan Laut AS dan Badan Proyek Riset Lanjutan Pertahanan (DARPA) untuk mengembangkan robot generasi berikutnya yang bisa memperbaiki, memindahkan, bahkan menyingkirkan satelit mati dari orbit padat. Langkah ini penting mengingat meningkatnya risiko tabrakan di luar angkasa akibat semakin banyaknya sampah antariksa.
Sementara itu, Katalyst Space Technologies masih mengatasi masalah komunikasi dan pointing pada robot Link miliknya. Setelah perbaikan perangkat lunak, Link dijadwalkan memberikan dorongan pada Swift dalam beberapa pekan mendatang. Jika berhasil, Swift bisa terus mengamati ledakan-ledakan kosmik besar selama bertahun-tahun ke depan.
Pertanyaan besarnya sekarang: akankah negara-negara berkembang seperti Indonesia ikut memanfaatkan jasa servis satelit ini, atau justru tertinggal karena keterbatasan regulasi dan investasi? Dengan semakin komersialnya layanan antariksa, peluang untuk memperpanjang umur aset orbit terbuka lebarโasalkan ada kemauan politik dan anggaran yang memadai.



