Geng Anubis Ancam Bocor 1 Terabyte Data Perusahaan Susu Milik Coca-Cola
Baca dalam 60 detik
- Kelompok peretas Anubis mengklaim telah mencuri 1 TB data dari fairlife, anak usaha Coca-Cola, dan mengancam akan mempublikasikannya jika tebusan tidak dibayar.
- Serangan siber ini telah mengganggu produksi fairlife di Amerika Serikat, menyoroti kerentanan rantai pasok perusahaan multinasional.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi perusahaan Indonesia untuk memperkuat keamanan data, mengingat maraknya serangan ransomware di dalam negeri.

Geng peretas Anubis mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber yang melumpuhkan fairlife, perusahaan susu milik Coca-Cola, dan mengancam akan membocorkan data curian jika permintaan tebusan tidak dipenuhi. Klaim tersebut diumumkan melalui situs gelap mereka pada Selasa (21/7), disertai pernyataan telah mengakses 1 terabyte data milik fairlife.
Fairlife yang berbasis di Chicago memproduksi berbagai produk susu, termasuk protein shake dan susu saring. Coca-Cola sebelumnya mengonfirmasi bahwa produksi di fasilitas fairlife di Amerika Serikat terhenti sementara akibat serangan ini. Hingga berita ini diturunkan, baik Coca-Cola maupun kelompok peretas belum memberikan tanggapan lebih lanjut.
Anubis dikenal sebagai salah satu geng ransomware yang agresif. Menurut analisis Trend Micro tahun lalu, kelompok ini tidak hanya mengenkripsi data korban, tetapi juga menggunakan perangkat lunak penghapus file (file wiper) yang dapat menghancurkan data secara permanen. Taktik ini membuat Anubis lebih berbahaya dibanding geng ransomware lain yang hanya mengandalkan enkripsi.
Serangan terhadap fairlife merupakan contoh nyata bagaimana ransomware dapat mengganggu rantai pasok perusahaan besar. Fairlife adalah pemasok utama produk susu ke berbagai jaringan ritel di AS, sehingga gangguan produksi berpotensi memicu kelangkaan pasokan. Kasus ini juga menyoroti kerentanan perusahaan makanan dan minuman terhadap serangan siber, yang seringkali dianggap kurang prioritas dibanding sektor keuangan atau energi.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan siber di sektor industri. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan ransomware di Indonesia meningkat, menargetkan rumah sakit, lembaga pemerintah, dan perusahaan swasta. Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), lebih dari 200 juta serangan siber terjadi di Indonesia sepanjang 2025. Perusahaan-perusahaan lokal, terutama yang bergerak di bidang makanan dan minuman, perlu mengevaluasi sistem keamanan mereka untuk mencegah nasib serupa.
Anubis sendiri bukan nama baru di dunia maya. Kelompok ini diduga berasal dari Rusia atau negara pecahan Uni Soviet, dan telah menyerang berbagai perusahaan global. Penggunaan file wiper membuat mereka sulit dilacak dan meningkatkan tekanan pada korban untuk membayar tebusan. Namun, para ahli keamanan siber menyarankan agar perusahaan tidak membayar tebusan, karena tidak ada jaminan data akan kembali dan justru mendanai aktivitas kriminal.
Ke depannya, fairlife dan Coca-Cola harus memutuskan apakah akan bernegosiasi dengan peretas atau memulihkan sistem secara mandiri. Keputusan ini akan menjadi preseden bagi perusahaan lain yang menghadapi ancaman serupa. Pertanyaan yang mengemuka: apakah industri global sudah cukup siap menghadapi gelombang serangan ransomware yang semakin canggih?



