Likuiditas Perbankan Menengah Mengetat, Perang Bunga Deposito Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Bank-bank menengah (KBMI II-III) mulai kesulitan menghimpun dana karena likuiditas ketat, berpotensi memicu kompetisi suku bunga deposito.
- Distribusi dana tidak merata: bank besar (KBMI IV) menguasai Rp5.550,8 triliun, sementara bank kecil dan menengah hanya memiliki porsi kecil.
- Jika perang bunga terjadi, biaya dana naik, margin bunga tertekan, dan ruang penurunan bunga kredit makin sempit, mengancam intermediasi.

Ketatnya likuiditas di perbankan menengah Indonesia mulai menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang suku bunga deposito. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang membuat bank-bank dengan modal inti terbatas harus bersaing lebih keras untuk menarik dana masyarakat.
Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M. Rizal Taufikurahman, mengungkapkan bahwa bank-bank dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II dan III paling merasakan tekanan. "Keluhan likuiditas dari bank menengah mengindikasikan meningkatnya kompetisi menghimpun dana. Ini berpotensi memicu perang suku bunga deposito," ujarnya. Jika perang bunga benar terjadi, bank dengan basis dana murah (CASA) yang terbatas akan menjadi pihak yang paling dirugikan.
Dampak lanjutannya, ruang bagi bank-bank tersebut untuk menurunkan bunga kredit menjadi sangat sempit. Rizal menjelaskan, "Cost of fund akan meningkat, margin bunga bersih (NIM) tertekan, dan ruang penurunan bunga kredit makin sempit." Hal ini bisa menghambat fungsi intermediasi perbankan, yang seharusnya menyalurkan kredit ke sektor riil.
Namun, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai masalahnya bukan sekadar kekurangan likuiditas, melainkan distribusi yang tidak merata. "Bank besar (KBMI IV) lebih kuat karena basis dana murah dan ekosistem transaksi luas, sementara bank menengah lebih sensitif terhadap perpindahan dana deposan besar," katanya. Data per Mei 2026 menunjukkan konsentrasi dana sangat timpang: KBMI IV menguasai Rp5.550,8 triliun, jauh melampaui KBMI I, II, dan III.
Josua menambahkan, indikasi perang bunga memang mulai terlihat, tetapi masih bersifat selektif dan belum meluas. "Dalam kondisi suku bunga acuan naik, SRBI menarik, SBN ritel menawarkan kupon tinggi, dan deposan besar makin sensitif terhadap imbal hasil, bank menengah harus menawarkan bunga lebih kompetitif untuk mempertahankan dananya," jelasnya. Artinya, bank-bank kecil kemungkinan akan menaikkan bunga deposito secara agresif untuk mencegah dana kabur ke instrumen lain.
Bagi nasabah, situasi ini bisa menjadi berkah tersembunyi: suku bunga deposito di bank menengah berpotensi naik lebih tinggi. Namun, bagi perekonomian nasional, perang bunga justru menjadi alarm. Jika bank menengah kesulitan menyalurkan kredit karena biaya dana tinggi, sektor usaha kecil dan menengahโyang biasanya menjadi nasabah utama bank tersebutโbisa terhambat akses pendanaannya.
Ke depan, pemerintah dan otoritas moneter dituntut tidak hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga memastikan likuiditas perbankan merata. Tanpa intervensi yang tepat, fungsi intermediasi bisa terganggu dan pertumbuhan ekonomi terancam melambat. Pertanyaannya, akankah BI mengambil langkah untuk meredam potensi perang bunga, atau membiarkan mekanisme pasar berjalan?



