CuspAI Raup Rp7 Triliun dari Bezos dan Pemerintah Inggris untuk Ciptakan Material Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- CuspAI, startup material berbasis AI asal Inggris, mengantongi pendanaan Seri B senilai $450 juta yang melibatkan Jeff Bezos dan dana ventura pemerintah Inggris.
- Pendanaan ini akan digunakan untuk mengembangkan platform MIRA dan memperluas operasi ke AS, Asia-Pasifik, dan Eropa, dengan valuasi perusahaan mencapai $2,6 miliar.
- Kolaborasi dengan Nvidia, Meta, dan lebih dari 45 perusahaan lain bertujuan mengatasi hambatan material di industri semikonduktor, energi bersih, dan manufaktur canggih.

Startup material berbasis kecerdasan buatan asal Inggris, CuspAI, berhasil mengamankan pendanaan Seri B senilai $450 juta atau setara Rp7 triliun. Putaran ini melibatkan investor kelas berat seperti Jeff Bezos melalui Bezos Expeditions dan dana ventura kedaulatan AI pemerintah Inggris, Sovereign AI Venture Fund. Langkah ini menandai ambisi besar CuspAI untuk merevolusi penemuan material baru yang dibutuhkan industri semikonduktor, energi bersih, dan manufaktur canggih.
Pendanaan tersebut dipimpin oleh Kleiner Perkins dan NEA, membawa valuasi CuspAI melonjak ke angka $2,6 miliar. Dalam pengumuman resmi, startup yang didirikan oleh Chad Edwards dan Max Welling ini menyatakan akan menggunakan dana segar untuk memperluas operasi ke Amerika Serikat, kawasan Asia-Pasifik, dan Eropa. Ekspansi ini diyakini akan mempercepat adopsi platform AI mereka yang diberi nama MIRA.
MIRA dirancang untuk menjalankan siklus penemuan material secara menyeluruhโmulai dari desain material generatif, simulasi, perencanaan jalur sintesis, hingga validasi eksperimental yang terkoordinasi. Menurut CuspAI, platform ini menjadi kunci untuk memecahkan hambatan material yang selama ini membatasi kemajuan industri. "Jika kita tidak bergerak cepat, 50 tahun ke depan kemajuan industri akan terhambat oleh satu tantangan: dunia membutuhkan material yang belum ada," tulis Edwards dan Welling dalam blog Medium mereka.
Selain pendanaan, CuspAI meluncurkan AI Materials Foundry, sebuah koalisi yang terdiri dari lebih dari 45 perusahaan, termasuk raksasa chip Nvidia dan raksasa media sosial Meta. Inisiatif ini bertujuan mengumpulkan sumber daya komputasi yang diperlukan untuk perangkat lunak penemuan material. Kehadiran Nvidia dan Meta menunjukkan bahwa industri teknologi serius ingin mengatasi keterbatasan material konvensional.
Untuk memperkuat kredibilitasnya, CuspAI menunjuk sejumlah tokoh berpengaruh sebagai dewan penasihat. Mereka termasuk Abhi Talwalkar, anggota dewan AMD dan veteran semikonduktor, serta pionir AI modern seperti Yann LeCun dan Geoffrey Hinton. Startup ini juga merekrut John Giannandrea, mantan eksekutif Apple dan Google, untuk membantu mendirikan operasi foundry di Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi strategis. Sebagai negara dengan industri manufaktur yang terus tumbuh dan ketergantungan tinggi pada impor komponen semikonduktor, kehadiran teknologi seperti MIRA bisa membuka peluang bagi riset material dalam negeri. Namun, tantangan besar tetap ada: Indonesia perlu membangun ekosistem AI dan komputasi berkinerja tinggi agar tidak sekadar menjadi pasar konsumen. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap memanfaatkan gelombang inovasi material ini, atau akan kembali tertinggal dalam rantai pasok global?



