Prabowo Tegaskan Keberpihakan pada Rakyat Miskin: Anggaran Jaminan Kesehatan Tembus 100 Juta Peserta
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmen tinggi terhadap pengentasan kemiskinan melalui program sekolah rakyat dan bantuan sosial.
- Pemerintah mengklaim jaminan kesehatan nasional telah mencakup hampir 100 juta jiwa, jauh melampaui cakupan Singapura dan Malaysia.
- Program kartu sembako dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjadi andalan untuk menekan angka kemiskinan di Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberpihakannya terhadap masyarakat kurang mampu bukan sekadar retorika, melainkan telah diwujudkan dalam berbagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan dasar warga. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7) sore, ia menyebut alokasi anggaran untuk kelompok miskin mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Keberpihakan kita kepada orang miskin luar biasa," ujar Prabowo di hadapan para menteri. Ia merinci sejumlah inisiatif yang tengah dijalankan, mulai dari pendidikan hingga jaminan sosial. Salah satu yang ia soroti adalah program sekolah rakyat yang dikelola Kementerian Sosial, yang menyasar anak-anak dari desil termiskin. Setiap siswa penerima manfaat mendapatkan total bantuan Rp4 juta per bulan, termasuk uang saku dan bebas Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Selain itu, Prabowo menyebutkan bahwa Kartu Indonesia Pintar (KIP) telah menjangkau 1,2 juta mahasiswa dengan bantuan biaya hidup berkisar Rp800 ribu hingga Rp1,4 juta per bulan. Program kartu sembako juga disalurkan kepada 18 juta keluarga penerima manfaat, masing-masing menerima Rp200 ribu per bulan. Angka-angka ini, menurut Presiden, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menekan angka kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Yang paling menonjol dalam pernyataan Prabowo adalah klaim tentang cakupan jaminan sosial kesehatan nasional yang mencapai 96,8 juta orang, atau nyaris 100 juta jiwa. Ia membandingkannya dengan negara lain: "20 kali lebih besar dari Singapura, 3,5 kali lebih besar dari Malaysia kita beri jaminan." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah ingin menunjukkan skala ambisi program jaminan kesehatan yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.
Namun, di balik angka-angka tersebut, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa efektivitas program masih perlu diukur dari kualitas layanan dan ketepatan sasaran. Misalnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan pada Maret 2025 masih berada di kisaran 9,03 persen, turun tipis dari tahun sebelumnya. Artinya, masih ada sekitar 25 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Program-program yang disebut Prabowo diharapkan dapat mempercepat penurunan angka tersebut.
Dari sisi anggaran, pemerintah telah mengalokasikan dana triliunan rupiah untuk perlindungan sosial dalam APBN 2025. Namun, tantangan distribusi dan akurasi data penerima manfaat kerap menjadi kendala. Program sekolah rakyat, misalnya, masih dalam tahap uji coba di beberapa daerah dan belum menjangkau seluruh desil termiskin secara merata.
Ke depan, publik akan mengawasi apakah janji-janji ini benar-benar terealisasi di lapangan. Pertanyaan kritis yang muncul: mampukah birokrasi menyalurkan bantuan tepat sasaran tanpa kebocoran? Atau akankah program ini hanya menjadi angka di atas kertas? Jawabannya akan menentukan apakah keberpihakan yang diklaim Prabowo benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.



