IHSG Melonjak 4,24% dalam Sepekan, Asing Justru Lepas Saham Astra dan Mitra Adiperkasa
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net buy Rp441,4 miliar pada pekan 13-17 Juli 2026, namun tetap menjual saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII dan MAPI.
- Aksi jual terbesar terjadi pada PT Astra International Tbk dengan net sell Rp532,5 miliar, diikuti MAPI Rp187,9 miliar dan BRMS Rp101,5 miliar.
- IHSG menguat 4,24% ke 6.175,5 didorong likuiditas tinggi, namun tekanan jual asing pada emiten tertentu patut diwaspadai investor ritel.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir, melesat 4,24% ke level 6.175,5 pada periode 13-17 Juli 2026. Namun di balik reli tersebut, investor asing justru membukukan aksi jual bersih pada sejumlah saham unggulan, menandakan adanya strategi rotasi portofolio yang patut dicermati pelaku pasar domestik.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan net foreign buy asing mencapai Rp441,4 miliar sepanjang pekan lalu. Angka ini terbilang positif, tetapi jika ditelisik lebih dalam, aksi beli tersebut terkonsentrasi di sektor perbankan dan beberapa emiten besar lainnya. Sementara itu, saham-saham berkapitalisasi pasar raksasa justru menjadi sasaran lepas, mencerminkan langkah ambil untung (profit taking) di tengah momentum penguatan.
PT Astra International Tbk (ASII) menjadi yang paling tertekan dengan net sell Rp532,5 miliar, menjadikannya saham dengan tekanan jual asing tertinggi. Disusul PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebesar Rp187,9 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp101,5 miliar, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp94,4 miliar. Emiten lain yang turut dilepas antara lain PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp67,7 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp63,2 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp60,5 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp56,9 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp51,6 miliar, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp48,7 miliar.
Fenomena ini menarik karena terjadi di saat IHSG justru mencatat penguatan signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 36,25% menjadi Rp13,99 triliun, volume harian naik 27,75% menjadi 26,17 miliar saham, dan frekuensi transaksi meningkat 24,60% menjadi 2,33 juta kali per hari. Kapitalisasi pasar BEI pun bertambah 3,95% menjadi Rp10.749 triliun. Artinya, likuiditas pasar mengalir deras, namun asing memilih untuk melepas kepemilikan di sejumlah emiten tertentu.
Menurut analis pasar modal, aksi jual asing terhadap saham-saham seperti ASII dan MAPI bisa dimaknai sebagai realisasi keuntungan setelah harga saham keduanya mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Sektor otomotif dan ritel memang tengah diuji oleh tekanan daya beli masyarakat, sehingga investor asing mungkin mengantisipasi risiko perlambatan. Sementara itu, pelepasan saham energi dan tambang seperti BRMS, PGAS, BUMI, dan MDKA sejalan dengan fluktuasi harga komoditas global yang masih belum stabil.
Bagi investor ritel Indonesia, data ini menjadi pengingat bahwa reli IHSG tidak selalu diikuti oleh aksi beli asing secara merata. Rotasi sektoral sedang terjadi: dana asing bergerak dari saham-saham siklikal ke sektor perbankan yang dinilai lebih defensif. Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat tergantung pada kemampuan emiten menjaga kinerja di tengah tekanan eksternal, serta konsistensi aliran modal asing ke pasar saham Tanah Air.



