Pesta Sepak Bola di Amerika Utara: Final Piala Dunia 2026 Tanpa Tuan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Ribuan suporter memadati berbagai kota di AS dan Kanada untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, meskipun tuan rumah tidak lolos.
- Euforia terlihat dari New York hingga Vancouver, dengan atribut khas seperti cat wajah dan kostum unik, menandakan antusiasme yang tak surut.
- Pertandingan ini menjadi ajang unjuk kebanggaan bagi diaspora Spanyol dan Argentina di Amerika Utara, sekaligus uji coba penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Ribuan penggemar sepak bola memadati berbagai sudut Amerika Serikat dan Kanada untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, Sabtu (19/7) waktu setempat, meskipun ketiga tuan rumah—AS, Kanada, dan Meksiko—gagal melaju ke babak puncak.
Suasana meriah terpantau dari New York hingga San Francisco, Toronto, Boston, Vancouver, dan Miami. Di Central Park, New York, para suporter Spanyol dan Argentina berbaur dengan cat wajah merah-kuning atau biru-putih. Seorang penggemar bahkan mengenakan kostum Lionel Messi di zona penggemar Toronto, sementara di Boston, seekor anjing dihias jersey Argentina. Di San Diego, panggung unik terjadi ketika laga diproyeksikan di dinding kolam renang SeaWorld, disaksikan oleh seekor paus orca.
Ketiadaan tuan rumah di final tidak mengurangi semangat. "Ini bukti bahwa sepak bola telah menjadi bahasa universal di Amerika Utara," ujar seorang analis olahraga dari Universitas Toronto. Menurutnya, animo besar ini menjadi indikator kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama oleh tiga negara tersebut. FIFA pun mencatat lonjakan penjualan tiket pertandingan dan merchandise di kawasan itu.
Bagi diaspora Spanyol dan Argentina, final ini menjadi momen kebanggaan. Di Vancouver, seorang pendukung cilik Argentina tampak khusyuk menonton di FIFA Fan Fest, sementara di Miami Beach, seorang penggemar Spanyol nekat duduk sendirian di tengah lautan pendukung Argentina. Adegan-adegan ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional antara komunitas imigran dan tim nasional mereka.
Konteks Indonesia: Meski tidak terlibat langsung, gelaran ini relevan bagi penggemar sepak bola Tanah Air yang kerap menggelar nobar serupa saat Piala Dunia atau Piala Asia. Antusiasme di Amerika Utara mengingatkan pada euforia yang terjadi di Indonesia saat final Piala Dunia 2018 atau 2022, di mana kafe dan mal dipenuhi penonton. Ke depan, Indonesia yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 (meski batal) dan Piala Asia 2023 (ditunda) bisa belajar dari manajemen keramaian dan promosi pariwisata yang dilakukan AS-Kanada-Meksiko.
Pertanyaan yang mengemuka: akankah euforia serupa terulang saat Piala Dunia 2026 benar-benar digelar di tiga negara tersebut, atau justru menurun karena faktor kejenuhan? Yang jelas, final tanpa tuan rumah kali ini membuktikan bahwa sepak bola mampu menyatukan lintas batas—sebuah modal berharga bagi FIFA dan penyelenggara.



