Kenneth Jeyaretnam, Putra Tokoh Oposisi yang Tak Lekang oleh Zaman, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Kenneth Jeyaretnam, sekretaris jenderal Partai Reformasi Singapura, meninggal dunia dalam tidurnya pada usia 67 tahun.
- Ia mewarisi semangat sang ayah, JB Jeyaretnam, dan menjadi suara kritis di tengah dominasi politik Singapura.
- Kepergiannya meninggalkan warisan perjuangan politik yang tak terukur dari jabatan formal, melainkan dari keberaniannya bersuara.

Kenneth Jeyaretnam, sekretaris jenderal Partai Reformasi (RP) yang juga putra dari tokoh oposisi legendaris Singapura, JB Jeyaretnam, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (18/7) dalam usia 67 tahun. Kabar duka ini disampaikan oleh sang istri, Amanda Jeyaretnam, melalui unggahan di akun Facebook suaminya pada Minggu (19/7).
Menurut Amanda, Kenneth meninggal secara tenang saat tidur, dikelilingi oleh keluarga. “Ia adalah suami tercinta dan ayah yang penuh kasih bagi putra kami, Jared. Ia memenuhi hidup kami dengan kebahagiaan dan keajaiban, dan kami sangat merindukannya,” tulis Amanda. Ia menambahkan bahwa detail pemakaman untuk upacara keluarga kecil masih dalam tahap finalisasi, sementara sebuah peringatan untuk merayakan hidup Kenneth akan diadakan di kemudian hari.
Kenneth bukan sekadar nama dalam panggung politik Singapura. Sebagai putra sulung JB Jeyaretnam—sosok yang dikenal gigih melawan hegemoni Partai Aksi Rakyat (PAP)—ia mewarisi semangat perlawanan yang sama. Setelah mengambil alih kepemimpinan RP pada 2009, ia terus menjadi pengkritik vokal pemerintah, kerap mengomentari politik dan kebijakan publik melalui media sosial serta situs pribadinya. Sikap kritis ini membuatnya beberapa kali mendapat arahan koreksi berdasarkan POFMA, undang-undang yang kontroversial di Singapura.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kenneth diketahui tinggal di Inggris. Clarence Lun, mantan pengacaranya, dalam unggahan Facebook menceritakan bahwa ia mengunjungi Kenneth di rumah sakit pada Juni lalu, saat kondisi kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Lun menilai Kenneth sebagai pribadi yang penuh perhatian, sopan, dan teliti dalam setiap urusan. “Kontribusinya terhadap kehidupan publik Singapura tidak boleh diukur semata-mata dari apakah ia memegang jabatan politik,” tulis Lun. “Pelayanan publik juga berarti kesediaan untuk berdiri, mempertanyakan, menanggung kritik, dan menjaga agar suara alternatif tetap hidup ketika melakukan hal itu sulit. Kenneth melakukan semua itu.”
Lim Tean, pemimpin Aliansi Rakyat untuk Reformasi (PAR)—yang pernah menjadi wadah koalisi empat partai oposisi termasuk RP sebelum RP keluar pada 2025—menyebut Kenneth sebagai “suara yang teguh dalam oposisi Singapura”. Lim mengagumi keyakinan Kenneth, terutama dalam memperjuangkan kaum yang kurang beruntung. “Ketika ia percaya pada sesuatu, ia tidak pernah goyah, tidak peduli betapa tidak populernya perjuangan itu. Itulah ukuran dirinya, dan itu adalah semangat ayahnya yang hidup dalam dirinya,” ujar Lim.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah Kenneth Jeyaretnam mengingatkan pada dinamika politik di negara tetangga yang kerap dianggap steril dari oposisi. Meskipun Singapura dikenal dengan stabilitas dan pertumbuhan ekonominya, ruang bagi suara alternatif tetap terbatas. Kenneth adalah contoh bagaimana seorang individu bisa tetap konsisten menyuarakan kritik meski harus berhadapan dengan sistem yang mapan. Warisannya bukanlah kursi parlemen, melainkan keberanian untuk terus bertanya dan melawan arus. Kini, setelah kepergiannya, pertanyaan yang menggantung adalah: siapa yang akan meneruskan estafet perlawanan di panggung politik Singapura yang semakin sunyi dari suara oposisi?



