Mantra Wasit Piala Dunia: Tak Ada Konspirasi, Hanya Manusia yang Rawan Salah
Baca dalam 60 detik
- Mantan asisten wasit Piala Dunia Darren Cann membantah tegas tuduhan FIFA mengarahkan pertandingan demi kepentingan Argentina dan Lionel Messi.
- Kesalahan wasit di lapangan murni akibat tekanan waktu dan keterbatasan manusia, bukan bagian dari skenario besar yang direncanakan.
- Teori konspirasi disebut memicu ancaman dan pelecehan terhadap wasit, memperburuk kondisi psikologis pengadil di tengah sorotan global.

Teori konspirasi yang menyebut FIFA dan wasit bersekongkol mengantarkan Argentina serta Lionel Messi ke puncak Piala Dunia kembali mendapat bantahan keras dari kalangan internal pengadil lapangan. Darren Cann, asisten wasit yang memimpin laga final 2010 antara Spanyol dan Belanda, menegaskan bahwa narasi semacam itu tidak berdasar dan hanya memperkeruh suasana di tengah tekanan besar yang dihadapi wasit.
Dalam wawancara dengan BBC Sport, Cann mengungkapkan bahwa wasit-wasit Piala Dunia berasal dari berbagai negara dan konfederasi yang berbeda, dan mereka hanya โdipinjamโ oleh FIFA selama enam minggu. Mereka tinggal di kamp pelatihan terpisah, tanpa interaksi dengan petinggi FIFA. โTidak ada pertemuan rahasia antara komite eksekutif FIFA dan wasit. Kami bahkan tidak pernah melihat para petinggi itu,โ ujar Cann, yang juga menjadi bagian tim Howard Webb di dua edisi Piala Dunia.
Menurut Cann, tuduhan bahwa wasit sengaja meloloskan Argentina ke final demi โestafetโ antara Messi dan Lamine Yamal adalah omong kosong. Ia bahkan mengaku tidak tahu soal foto Messi bersama Yamal saat bayi, dan yakin sebagian besar wasit juga tidak mengetahuinya. โKami membuat keputusan berdasarkan apa yang terlihat, bukan berdasarkan nama pemain,โ tegasnya.
Cann mengakui bahwa kesalahan wasit memang terjadi, tetapi itu adalah konsekuensi dari permainan cepat yang diputuskan dalam sepersekian detik. Ia mencontohkan momen saat ia dan Howard Webb tidak memberikan penalti untuk Barcelona di laga Liga Champions melawan Bayern Munich, yang setelah ditinjau ulang ternyata keliru. โKami memutuskannya dengan jujur, tanpa memandang tim atau pemain,โ katanya.
Dampak dari teori konspirasi tidak main-main. Cann menyoroti bahwa tuduhan bias kerap berujung pada ancaman terhadap wasit dan keluarganya. Ia menyebut rekan senegaranya, Michael Oliver dan Anthony Taylor, pernah menerima ancaman serius. โIni tidak bisa diterima, dan semakin diperparah oleh bisikan-bisikan tak berdasar yang meragukan imparsialitas wasit,โ ujarnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, fenomena ini bukan sekadar drama global. Wasit-wasit lokal pun kerap dihujat saat pertandingan Liga 1 atau turnamen nasional, dan tekanan serupa bisa memicu kesalahan atau bahkan intimidasi. Pelajaran dari Piala Dunia ini adalah bahwa wasit adalah manusia biasa yang bekerja di bawah sorotan, bukan dalang di balik skenario besar.
Cann menutup dengan pandangan ke depan: wasit final, Slavko Vincic, hanya akan berharap bisa meninggalkan lapangan tanpa keputusan kontroversial yang memengaruhi hasil. โSemua teori konspirasi itu palsu. Satu-satunya hal di pikiran kami adalah membuat keputusan yang benar,โ pungkasnya. Pertanyaannya, mampukah publik menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari sepak bola, bukan bukti persekongkolan?



