Collina Buka Suara soal Kontroversi Bola Kabel di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pierluigi Collina, Kepala Wasit FIFA, mengakui pemilihan wasit final Piala Dunia 2026 bukanlah tugas mudah.
- Collina membantah kontroversi bola menyentuh kabel kamera pada laga Inggris vs Norwegia, mengandalkan data sensor.
- Teknologi VAR dan sensor bola dinilai Collina justru memperkuat emosi penggemar, bukan merusaknya.

Pierluigi Collina, Kepala Wasit FIFA, buka suara mengenai sejumlah keputusan kontroversial selama Piala Dunia 2026, termasuk tuduhan bola mengenai kabel kamera pada laga perempat final antara Inggris dan Norwegia. Dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport, Collina menegaskan bahwa data teknologi telah membuktikan bola tidak menyentuh kabel apa pun.
Collina, yang memimpin final Piala Dunia 2002 antara Brasil dan Jerman, ditunjuk untuk memilih wasit partai puncak edisi 2026 antara Spanyol dan Argentina. Pilihannya jatuh pada Slavko Vinčić, seorang wasit asal Slovenia. “Dia menjalani turnamen yang sangat baik. Saya senang untuknya, seperti halnya untuk wasit lain yang ada di sini; membuat pilihan tidaklah mudah,” ujar Collina. Vinčić menangis saat mengetahui dirinya terpilih, sebuah reaksi yang dipahami Collina karena ia pernah mengalami hal serupa.
Salah satu momen paling ramai diperbincangkan adalah gol penyeimbang Inggris ke gawang Norwegia, yang dianggap sebagian pihak terjadi setelah bola membentur kabel kamera sehingga lintasannya berubah. Collina dengan tegas membantah klaim tersebut. “Sungguh luar biasa bahwa orang tidak bisa yakin bahwa bola tidak menyentuh kabel apa pun,” katanya. Ia menjelaskan bahwa grafik sensor menunjukkan garis datar sejak kiper melepaskan bola hingga pemain lain mengontrolnya, hanya ada sedikit gelombang akibat udara. “Ada alat teknologi yang memungkinkan Anda memperjelas hal-hal tertentu,” tambahnya.
Collina juga merujuk pada insiden lain yang melibatkan sensor bola, yaitu gol yang dianulir Kroasia saat melawan Portugal. Sensor menunjukkan puncak saat bola menyentuh kepala pemain Kroasia, lalu garis datar, dan puncak lain saat menyentuh punggung bek Portugal. “Karena sistem tidak mendeteksi kontak dengan rambut, puncak ditentukan oleh kontak dengan kepala,” jelas Collina.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, perdebatan soal teknologi dalam sepak bola bukanlah hal asing. VAR telah digunakan di Liga 1 Indonesia sejak beberapa musim terakhir, meski masih sering menuai kritik terkait konsistensi. Pernyataan Collina ini bisa menjadi rujukan penting bagi otoritas sepak bola nasional dalam menyikapi kontroversi serupa. Teknologi sensor bola, yang kini menjadi standar FIFA, mungkin bisa diadopsi lebih luas untuk mengurangi polemik.
Collina juga membela penggunaan VAR dan teknologi lain, dengan alasan bahwa teknologi justru meningkatkan emosi penggemar, bukan merusaknya. “Secara historis itu tidak akurat. Untuk offside, ada beberapa detik penantian konfirmasi, tetapi pemain tetap merayakan saat mencetak gol,” ujarnya. “Jika gol dikonfirmasi, ada perayaan kedua; jika dianulir, tim lawan yang merayakan. Saya merasa jauh lebih adil bahwa emosi didasarkan pada keputusan yang benar, bukan pada insiden yang akan diperdebatkan selama berminggu-minggu atau puluhan tahun.”
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana teknologi akan diintegrasikan dalam sepak bola, dan apakah Indonesia siap mengikuti standar FIFA yang semakin canggih. Dengan adanya AI Pro dan sensor bola, masa depan wasit mungkin akan lebih banyak dibantu data, namun tetap membutuhkan sentuhan manusia dalam pengambilan keputusan akhir.



