Kemitraan Perdagangan FIT Kini 19 Anggota, Indonesia Perlu Waspadai Dampak Non-Tarif
Baca dalam 60 detik
- Kemitraan Investasi dan Perdagangan Masa Depan (FIT) resmi diperluas menjadi 19 negara setelah bergabungnya Korea Selatan, Peru, dan Thailand.
- Inisiatif yang dipimpin Selandia Baru ini fokus pada pengurangan hambatan non-tarif dan subsidi global yang merugikan negara eksportir kompetitif.
- Perluasan FIT berpotensi menggeser arus perdagangan di kawasan, menuntut Indonesia memperkuat strategi diplomasi dagang dan daya saing ekspor.

Kemitraan Investasi dan Perdagangan Masa Depan (FIT) yang digagas Selandia Baru resmi menambah tiga anggota baru—Korea Selatan, Peru, dan Thailand—sehingga total anggotanya menjadi 19 negara dalam waktu kurang dari setahun sejak diluncurkan. Perluasan ini menandai langkah konkret negara-negara dagang berukuran kecil dan menengah untuk menciptakan terobosan praktis bagi eksportir mereka di tengah fragmentasi aturan perdagangan global.
Dalam pertemuan menteri yang digelar di Auckland, para anggota menyepakati sejumlah inisiatif untuk mengurangi hambatan perdagangan, termasuk deklarasi bersama yang menargetkan hambatan non-tarif. Menteri Perdagangan dan Investasi Selandia Baru Todd McClay menyebutkan bahwa hambatan non-tarif diperkirakan mempengaruhi perdagangan negaranya hingga 9 miliar dolar Selandia Baru (sekitar 5,26 miliar dolar AS). Delapan negara mendukung deklarasi yang dipimpin Selandia Baru tersebut.
Selain itu, 13 anggota mengeluarkan deklarasi tentang ketahanan ekonomi untuk mengatasi risiko keamanan ekonomi, serta menyepakati area kerja baru yang berfokus pada subsidi global. McClay menegaskan bahwa subsidi global mendistorsi arus perdagangan dan investasi, menekan harga global, serta merugikan eksportir kompetitif. Di bidang digital, para mitra juga meluncurkan proyek percontohan dokumentasi komersial elektronik untuk memperlancar perdagangan digital.
Bagi Indonesia, perluasan FIT patut dicermati. Meski tidak menjadi anggota, langkah negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura yang bergabung dapat mengubah peta persaingan ekspor di kawasan. Fokus FIT pada pengurangan hambatan non-tarif dan subsidi global juga berpotensi mempengaruhi kebijakan perdagangan Indonesia, terutama jika produk-produk unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan tekstil menghadapi persaingan yang lebih ketat dari negara anggota yang menikmati fasilitas perdagangan lebih baik.
Dalam kesempatan terpisah, Selandia Baru dan Singapura memberlakukan perjanjian bilateral tentang pasokan esensial. Berdasarkan kesepakatan itu, Singapura akan menyediakan bahan bakar, obat-obatan, dan bahan kimia, sementara Selandia Baru memasok pangan. Tujuannya mengamankan rantai pasok saat terjadi gangguan akibat konflik Timur Tengah yang masih berlangsung. Langkah ini menunjukkan bagaimana negara-negara kecil dan menengah membangun ketahanan melalui kerja sama bilateral di luar kerangka multilateral yang lebih besar.
Ke depan, perluasan FIT menimbulkan pertanyaan: akankah Indonesia bergabung atau justru membentuk aliansi tandingan? Dengan semakin banyaknya negara yang memilih jalur kemitraan pragmatis seperti FIT, posisi Indonesia dalam arsitektur perdagangan regional perlu diperkuat agar tidak tertinggal dalam akses pasar dan pengurangan hambatan.



