Myanmar Kaji Bauran Energi Optimal, Dorong Solar untuk Kurangi Ketergantungan Gas dan Hidro
Baca dalam 60 detik
- Myanmar tengah menghitung komposisi pembangkit listrik yang paling sesuai dengan sumber daya domestik, menyusul tekanan perubahan iklim terhadap PLTA dan fluktuasi harga gas global.
- Pemerintah mendorong dua jalur pengembangan tenaga surya: integrasi ke jaringan listrik nasional dan perluasan sistem solar home secara individu-komunal.
- Langkah ini menjadi sinyal bagi negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, untuk mempercepat diversifikasi energi guna memperkuat ketahanan pasokan listrik jangka panjang.

Pemerintah Myanmar melalui Kementerian Kelistrikan dan Energi tengah menyusun bauran pembangkit listrik yang paling tepat dengan mengoptimalkan potensi energi dalam negeri. Langkah ini diumumkan Menteri Ko Ko Lwin saat membuka lokakarya tentang perluasan peran tenaga surya dalam pasokan listrik nasional di Naypyitaw, 15 Juli lalu.
Saat ini, Myanmar masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan gas alam. Namun, perubahan iklim mulai mengganggu produksi hidro, sementara gejolak harga energi global menimbulkan risiko keamanan pasokan jangka panjang. Menurut Ko Ko Lwin, pihaknya tengah menghitung komposisi energi yang paling efisien dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.
Dalam lokakarya bertema โMempercepat Pengembangan Energi Surya di Myanmar Sambil Menjaga Stabilitas dan Keandalan Sistem Kelistrikanโ, Menteri memaparkan dua pendekatan utama. Pertama, mengintegrasikan pembangkit surya ke jaringan listrik nasional pada level yang sesuai, memanfaatkan kondisi geografis yang mendukung dan waktu konstruksi yang relatif singkat. Kedua, memperluas pemakaian sistem solar home secara individual dan komunal untuk menjangkau daerah yang belum teraliri listrik.
Lokakarya ini dihadiri 475 peserta, termasuk anggota Dewan Penasihat Persatuan Ko Ko Hlaing, para wakil menteri, kepala dinas dan BUMN terkait, pakar dari Dewan Teknik Myanmar, Federasi Perhimpunan Teknik Myanmar, serta Kamar Dagang dan Industri Myanmar. Perwakilan perusahaan mitra domestik dan internasional juga turut serta. Diskusi panel dan sesi tanya jawab menyoroti solusi teknis dan manajerial agar proyek surya dapat diimplementasikan secara cepat dan efektif.
Dalam sambutan penutupnya, Ko Ko Lwin menegaskan bahwa Myanmar dapat menuju masa depan yang lebih hijau dan aman secara energi dengan memanfaatkan potensi surya yang melimpah. โKita bisa mengurangi ketergantungan pada impor energi dan memperkuat kemandirian pasokan,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, langkah Myanmar ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Indonesia sendiri masih bergantung pada batu bara dan gas, sementara potensi surya sangat besar namun pemanfaatannya masih rendah. Kebijakan Myanmar yang menggabungkan pendekatan grid-scale dan off-grid dapat menjadi referensi bagi program listrik nasional Indonesia, terutama di kawasan timur yang minim infrastruktur.
Ke depan, keberhasilan Myanmar dalam menyeimbangkan antara percepatan proyek surya dan stabilitas sistem kelistrikan akan menjadi ujian. Apakah negara yang tengah dilanda ketidakpastian politik ini mampu menarik investasi dan mengelola transisi energi tanpa mengorbankan keandalan pasokan? Jawabannya akan menentukan apakah energi surya benar-benar menjadi solusi atau sekadar pelengkap.



