Maharaja Bhupinder Singh: Bocah 9 Tahun Bertakhta dengan 10 Istri dan 350 Gundik
Baca dalam 60 detik
- Bhupinder Singh naik takhta di usia 9 tahun setelah ayahnya wafat, lalu menjadi simbol kemewahan ekstrem di India kolonial.
- Ia memiliki 10 istri, 350 gundik, 88 anak, 44 Rolls Royce, dan rompi bertabur 1.001 berlian—gaya hidup yang memicu kontroversi.
- Warisan olahraga dan infrastrukturnya di Patiala masih dikenang, namun pengeluaran berlebihan menjadi kritik utama sejarawan.

Di usia sembilan tahun, sebagian besar anak masih bermain dan belajar. Namun bagi Maharaja Sir Bhupinder Singh dari Patiala, usia itu justru menjadi awal dari takhta dan kehidupan yang dipenuhi kemewahan luar biasa. Naik menggantikan ayahnya yang tewas dalam kecelakaan berkuda, ia kelak dikenal sebagai salah satu penguasa paling kontroversial dalam sejarah India—dengan sepuluh istri, 350 gundik, dan koleksi 44 mobil Rolls Royce.
Bhupinder Singh lahir pada 1891 dan menjalani masa kecil di Aitchison College, Lahore. Minatnya pada olahraga, terutama kriket dan polo, tumbuh sejak remaja. Baru pada 1910, saat berusia 19 tahun, ia resmi memegang kekuasaan penuh setelah mendapatkan pengakuan dari Viceroy of India. Pemerintahannya berlangsung di era ketika kerajaan-kerajaan pribumi India mulai melemah di bawah cengkeraman kolonial Inggris.
Kehidupan pribadi sang maharaja menjadi legenda. Selain harem yang luar biasa besar, ia dikenal karena selera makannya yang rakus: konon ia bisa melahap 40 hingga 50 burung puyuh tanpa tulang dalam satu waktu, serta sup yang dibuat dari kaldu 24 ekor burung snipe. Koleksi perhiasannya juga tak kalah mencengangkan. Pada 1928, ia memesan kalung festoon platinum dari Cartier yang dihiasi berlian De Beers seberat 234 karat—sebuah pesanan yang menggemparkan Eropa.
Namun, di balik kemewahan itu, Bhupinder Singh juga meninggalkan warisan nyata bagi Patiala. Ia membangun Chail View Palace, mendirikan lapangan kriket tertinggi di dunia, dan membentuk tim polo 'Patiala Tigers' yang disegani. Kandangnya menampung 500 kuda polo, dan ia sendiri meraih pangkat Letnan Jenderal Kehormatan dalam Perang Dunia I. Kontribusinya pada olahraga dan infrastruktur masih dikenang hingga kini.
Meski demikian, pengeluaran berlebihan dan gaya hidup hedonisnya kerap menuai kritik. Sejarawan menilai Bhupinder Singh adalah cerminan zamannya—penuh kemewahan, kekuasaan, dan kontradiksi. Ia hidup untuk dirinya sendiri, namun meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah India. Pertanyaannya, apakah warisan semacam ini layak dirayakan atau justru menjadi pelajaran tentang batas kekuasaan dan tanggung jawab?



