Serangan Drone Ukraina Hantam Gudang Wildberries di Dekat Moskow, 9 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Drone Ukraina menghantam dua gudang e-commerce Wildberries di dekat Moskow dan Tambov, menewaskan 9 orang serta melukai lebih dari 80 lainnya.
- Serangan ini menargetkan infrastruktur logistik dan energi Rusia, termasuk depot minyak dan kapal di Laut Hitam, sebagai bagian dari strategi Kyiv melemahkan perang Moskow.
- Rusia mengklaim mencegat 379 drone Ukraina dalam semalam, sementara Ukraina menyebut sasaran digunakan untuk memasok komponen sanksi bagi produksi drone Rusia.

Serangan drone Ukraina pada akhir pekan lalu menghantam dua gudang besar milik raksasa e-commerce Rusia, Wildberries, yang berlokasi di dekat Moskow dan di wilayah Tambov, menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari delapan puluh lainnya, demikian dilaporkan oleh otor setempat. Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam kampanye udara Kyiv yang terus-menerus menargetkan infrastruktur vital di dalam negeri Rusia.
Gudang di Kotovsk, Tambov, yang berjarak sekitar 360 kilometer dari perbatasan Ukraina, menjadi sasaran utama. Gubernur Tambov, Yevgeny Pervyshov, mengonfirmasi tujuh pekerja shift malam tewas dan 25 lainnya luka-luka. Sementara itu, gudang kedua di Elektrostal, hanya 50 kilometer di timur Moskow, juga terbakar hebat. Gubernur Wilayah Moskow, Andrei Vorobyov, melaporkan total 61 orang terluka di wilayahnya, dengan 40 di antaranya dirawat di rumah sakit. Seorang meninggal dunia akibat luka yang diderita.
Selain gudang, sebuah depot minyak di Noginsk, utara Elektrostal, juga terkena serangan, memicu kebakaran dan evakuasi rumah sakit bersalin serta bangunan tempat tinggal di sekitarnya. Pecahan drone bahkan menghantam sebuah taman kanak-kanak, meskipun api berhasil dipadamkan. Di kota Vladimir, sekitar 180 kilometer timur Moskow, sebuah bangunan residensial terkena serangan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam unggahan Telegram menyatakan bahwa serangan jarak jauh menghantam dua "fasilitas logistik signifikan" yang digunakan Rusia untuk memasok komponen sanksi bagi produksi drone dan peralatan navigasi. Ia juga menyebut sebuah fasilitas minyak ikut menjadi sasaran. Klaim ini sejalan dengan pernyataan Staf Umum Ukraina yang mengatakan depot minyak Noginsk memasok bahan bakar bagi angkatan bersenjata Rusia.
Di medan lain, Ukraina melaporkan serangan terhadap dua kapal tanker, dua derek apung, dan sebuah kapal tunda di Laut Hitam dan Laut Azov, yang menurut mereka digunakan untuk mengangkut minyak, bahan bakar, dan kargo militer. Sebuah kapal patroli kelas Svetlyak di Kerch juga menjadi sasaran, menjadikannya kapal kedua dari kelas tersebut yang dihantam dalam dua hari. Selain itu, sebuah jembatan kereta api di atas Sungai Bila di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia juga dilaporkan diserang.
Bagi Indonesia, serangan ini menyoroti kerentanan infrastruktur logistik dan energi di tengah konflik bersenjata modern. Dengan meningkatnya penggunaan drone dan serangan jarak jauh, negara-negara seperti Indonesia perlu mempertimbangkan strategi pertahanan udara yang lebih adaptif, terutama untuk melindungi aset-aset strategis seperti gudang logistik dan depot energi. Selain itu, eskalasi ini berpotensi mempengaruhi rantai pasok global, termasuk pasokan gandum dan energi dari kawasan Laut Hitam yang dapat berdampak pada harga pangan dan energi di dalam negeri.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pertahanan udaranya berhasil mencegat 379 drone Ukraina dalam semalam di atas 19 wilayah Rusia, termasuk Krimea yang dianeksasi, Laut Azov, dan Laut Hitam. Namun, serangan yang berhasil menembus pertahanan ini menunjukkan bahwa Ukraina terus mengembangkan kemampuan serangan jarak jauhnya. Pertanyaannya kini, sejauh mana Rusia mampu memperkuat pertahanan udara untuk melindungi pusat-pusat logistik dan penduduk sipil, dan apakah serangan semacam ini akan mendorong perubahan strategi di kedua belah pihak?



