Rudal Rusia Hantam Kyiv, Satu Tewas dan Ratusan Drone Balasan Hancurkan Gudang E-commerce
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal Rusia di Kyiv pada Minggu menewaskan satu orang dan melukai 13 lainnya, sehari setelah Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke gudang e-commerce di Moskow dan Tambov.
- Ketegangan militer berlangsung di tengah krisis politik domestik Ukraina: ribuan warga memprotes pemecatan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov yang digadang-gadang sebagai arsitek modernisasi militer.
- Serangan balasan Ukraina yang disebut 'sanksi jarak jauh' kini menyasar infrastruktur logistik dan minyak Rusia, memicu krisis bahan bakar di negara produsen minyak terbesar dunia.

Serangan rudal Rusia menghantam enam distrik di Kyiv pada Minggu (19/7) menewaskan seorang warga dan melukai 13 lainnya, hanya sehari setelah Ukraina melancarkan gelombang drone yang menghancurkan gudang e-commerce raksasa di wilayah Moskow dan Tambov. Insiden ini mempertegas situasi perang yang semakin kompleks, di mana Ukraina harus menghadapi gempuran harian Rusia sekaligus gejolak politik dalam negeri akibat pergantian mendadak pucuk pimpinan militer.
Menurut keterangan Layanan Darurat Negara Ukraina via Telegram, korban jiwa tercatat di distrik Solomianskyi—sebuah gedung apartemen terkena langsung—sementara kebakaran melanda supermarket di lokasi yang sama. Di distrik Sviatoshynsky, sebuah rumah dilaporkan hangus terbakar. Pusat perbelanjaan dan hiburan di Dniprovsky serta gedung non-hunian di Shevchenkivsky juga menjadi sasaran. Ledakan yang terdengar hingga pusat kota disebut cukup kuat untuk membunyikan alarm mobil di sekitarnya, sebagaimana dilaporkan jurnalis AFP di lokasi.
Di sisi lain, serangan balasan Ukraina tak kalah dahsyat. Pada Sabtu (18/7), lebih dari 370 drone diluncurkan menuju Moskow, menurut Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin. Ia menambahkan bahwa dalam periode 11–18 Juli saja, hampir 1.892 drone Ukraina yang mengarah ke ibu kota Rusia berhasil dicegat. Namun, sebagian lainnya mencapai sasaran: gudang e-commerce di Moskow dan Tambov hancur, menewaskan delapan orang dan memicu kebakaran besar. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa fasilitas logistik itu digunakan untuk memasok komponen sanksi bagi produksi drone dan peralatan navigasi Rusia.
Kampanye udara Ukraina yang disebut Zelenskyy sebagai “sanksi jarak jauh” ini dalam beberapa bulan terakhir memang semakin agresif, tak lagi terbatas pada infrastruktur militer. Sasaran meluas ke kilang minyak Rusia, yang menurut analis militer telah memicu krisis bahan bakar di salah satu negara produsen minyak terbesar dunia. “Ini adalah bentuk retaliasi atas empat tahun lebih bombardemen terhadap warga sipil kami,” ujar seorang pejabat tinggi Ukraina yang enggan disebut namanya.
Namun, di tengah eskalasi militer, panggung politik domestik Ukraina justru memanas. Ribuan warga turun ke jalan di sejumlah kota besar untuk hari ketiga berturut-turut pada Sabtu, memprotes pemecatan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov. Menteri yang dikenal sebagai inovator digitalisasi militer itu dipecat secara mendadak oleh Zelenskyy dalam perombakan kabinet yang mengejutkan, tepat saat Ukraina mulai menunjukkan momentum di medan perang. Spekulasi media setempat mengaitkan langkah ini dengan ketegangan antara Fedorov dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrsky, yang selama enam bulan terakhir kerap berselisih paham soal modernisasi dan digitalisasi angkatan bersenjata.
Bagi Indonesia, konflik ini menyiratkan pelajaran penting tentang ketahanan logistik dan teknologi militer di tengah perang asimetris. Penggunaan drone skala besar oleh Ukraina untuk menyerang infrastruktur ekonomi Rusia menunjukkan bahwa medan perang modern tak lagi terbatas pada garis depan. Sementara itu, gejolak politik di kala perang mengingatkan bahwa stabilitas kepemimpinan menjadi faktor krusial dalam mempertahankan moral dan efektivitas pertahanan. Pertanyaan besarnya: akankah perombakan kabinet Zelenskyy justru menguntungkan Rusia, atau justru menjadi katalis bagi strategi baru yang lebih agresif?



