AS Gempur Iran Lagi, Dua Tentara Tewas di Yordania Picu Eskalasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Washington melancarkan serangan udara baru ke Iran setelah dua personel militernya tewas dalam serangan di Yordania, menandai eskalasi signifikan pasca-gagalnya gencatan senjata.
- Serangan AS menyasar infrastruktur militer dan maritim Iran di Selat Hormuz, sementara Iran membalas dengan menghujani pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
- Konflik ini mengancam stabilitas pasokan energi global dan berpotensi memicu gelombang inflasi, dengan Indonesia sebagai importir minyak berisiko terdampak kenaikan harga.

Washington kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran, Jumat (28/3) waktu setempat, setelah dua personel militer Amerika tewas dalam serangan Iran di Yordania sehari sebelumnya. Langkah ini menandai babak baru konflik yang kian memanas pasca-runtuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara sebulan lalu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan yang dimulai pukul 18.00 ET atas perintah Presiden Donald Trump itu dirancang untuk menghancurkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Sasaran meliputi situs pengawasan, gudang senjata bawah tanah, infrastruktur logistik militer, dan fasilitas maritim. Sejak perang terbuka meletus akhir Februari, jumlah personel AS yang tewas mencapai 16 orang dan lebih dari 420 luka-luka.
Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan serangan balasan dengan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengecam AS sebagai pihak yang terus melanggar kesepakatan dan menyebut tanda tangan Trump “sama sekali tidak bernilai”. Ia memperingatkan bahwa Iran dan Poros Perlawanan telah menyiapkan “pelajaran yang tak terlupakan” bagi musuhnya.
Serangan Iran juga dilaporkan menyasar Arab Saudi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Sistem peringatan dini Saudi mengeluarkan imbauan kepada warga Al-Kharj dan Yanbu untuk berlindung. Al-Kharj, di timur Riyadh, menjadi markas pasukan AS, sementara Yanbu di Laut Merah memiliki terminal ekspor minyak utama. Hingga berita ini diturunkan, otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi resmi.
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa risiko langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong lonjakan harga energi global dan memperburuk tekanan inflasi domestik. Pemerintah perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga BBM dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah kerap memicu volatilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menuduh AS berusaha menguasai Selat Hormuz. Sementara itu, CENTCOM menegaskan bahwa serangan terbaru bertujuan “menghukum cepat” IRGC yang menyerang personel AS di Yordania. Kedua pihak sama-sama mengincar lalu lintas pelayaran: AS mengklaim memberlakukan blokade laut, sementara Iran menyatakan hanya menarget kapal yang melanggar aturan navigasi.
Dengan gencatan senjata yang gagal total dan serangan balasan yang terus berlanjut, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana kedua negara bersedia menarik diri dari jurang perang habis-habisan? Tekanan internasional, termasuk dari Uni Eropa dan negara-negara Teluk, mungkin menjadi satu-satunya rem yang tersisa untuk mencegah konflik terbuka yang lebih luas.



